Bivitri Susanti Soroti Jalan Buntu Demokrasi: Saluran Aspirasi Kini Tertutup Rapat

- Kamis, 20 November 2025 | 14:00 WIB
Bivitri Susanti Soroti Jalan Buntu Demokrasi: Saluran Aspirasi Kini Tertutup Rapat
Suara Frustrasi dari Ruang Diskusi

Suara Frustrasi dari Ruang Diskusi

Jakarta – Selasa, 18 November 2025

Di sebuah ruang diskusi ICW, pengajar Bivitri Susanti tak lagi menyembunyikan rasa frustrasinya. Menurutnya, mekanisme check and balances di negeri ini seperti sudah tak berdaya. Saluran-saluran aspirasi yang dulu bisa ditapaki, kini tertutup rapat-rapat.

"Dulu, kajian yang bagus masih bisa kita sampaikan ke DPR. Sekarang? Malah diludahi," ujarnya dengan nada getir. Lalu ia melanjutkan, "Coba mau bawa ke Menteri Keuangan? Rasanya mustahil dia tidak tahu persoalannya. Jangan-jangan... ya, ada intensi buruk di balik semua ini."

"Mau ke mana lagi? Channel bocor alus politik juga sudah ditutup orang Prabowo sendiri."

Bivitri melihat situasi ini memang sulit berubah. Pasalnya, mereka yang berkuasa dan membuat kebijakan justru diuntungkan oleh keadaan yang ada. "Hampir semua partai politik, ketua umumnya atau petingginya duduk di kabinet. Akibatnya, kita seolah kehilangan sekutu di kancah politik. Kalau pun ada yang mendekat, kita cuma dimanfaatkan, bukan dianggap mitra sejati," tegasnya.

Tak cuma soal politik praktis, ia juga menyoroti isu Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RKUHAP) yang baru saja disahkan pagi tadi. Bivitri menduga, ujung-ujungnya ini soal perebutan sumber daya ekonomi. "Coba lacak saja, siapa yang berdiri di balik kepolisian, siapa yang membekingi kejaksaan. Intinya ya perebutan duit, berebut cuan," ungkapnya blak-blakan.

Di tengah situasi yang suram itu, Bivitri masih melihat secercah harapan. Menurutnya, solusinya terletak pada upaya menghubungkan titik-titik gerakan sosial yang tersebar. Ia menyebut ada kolektif anak muda, kelompok baca, atau acara nonton bareng yang sebenarnya mirip dengan "kelompok studi" era 90-an. Mereka inilah yang sedang tumbuh, dan mungkin saja menjadi penyeimbang di masa depan.

(Ris)

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar