Eric Hobsbawm mengingatkan bahwa banyak tradisi nasional sebenarnya diciptakan untuk memperkuat legitimasi politik. Fenomena penggunaan simbol-simbol nasionalisme dalam pemerintahan sebelumnya menjadi pembelajaran berharga.
Pemerintahan baru ditantang untuk tidak hanya melanjutkan tradisi yang ada, tetapi mampu mendefinisikan ulang substansi nasionalisme yang lebih relevan dengan kebutuhan kontemporer.
Masyarakat Menantikan Substansi Bukan Simbol
Setelah mengalami berbagai dinamika politik, masyarakat Indonesia semakin kritis terhadap implementasi nasionalisme dalam praktik nyata. Kebutuhan akan kepemimpinan yang berani mengambil langkah mandiri menjadi harapan banyak pihak.
Esensi nasionalisme sejati terletak pada kemampuan membangun kemandirian visi tanpa terikat secara berlebihan pada warisan politik masa lalu.
Penutup: Menuju Nasionalisme yang Mandiri
Berdasarkan kerangka teori nasionalisme klasik, dapat disimpulkan bahwa nilai nasionalisme suatu kepemimpinan diukur melalui kemampuannya menciptakan terobosan mandiri. Kemampuan memformulasikan visi kebangsaan yang orisinal dan kontekstual menjadi kunci penilaian sejarah.
Masa depan akan membuktikan apakah nasionalisme yang ditawarkan mampu menjawab tantangan zaman secara mandiri atau hanya menjadi bagian dari kontinuitas politik biasa.
Artikel Terkait
Bambang Tri Mulyono Kembali ke Meja Hijau, Gugat Ijazah Presiden di Ulang Tahunnya
Tito Karnavian Kualat Lupa Sebut Nama Purbaya di Rapat Satgas Aceh
RSUD di Sumatera Kembali Beroperasi, Namun Sejumlah Puskesmas Masih Terhenti
Kongres Muhammadiyah 1930: Pesta Akbar di Tengah Badai Malaise