Dengan menyamakan Hamas dengan Nazi, narasi ini berhasil menghilangkan sisi kemanusiaan rakyat Palestina dalam diskusi publik. Konflik kemudian direduksi menjadi dualisme hitam-putih "Yahudi versus Nazi", yang membuat kelanjutan agresi militer di Gaza tampak sebagai kewajiban moral, bukan sebuah kejahatan kemanusiaan. Hal ini membantu Netanyahu mempertahankan koalisi pemerintahannya yang ekstrem, meski harus mengorbankan nyawa tentara dan tawanannya sendiri.
Efek Balik: Kebangkitan Penyangkalan Holocaust di Barat
Yang lebih mengkhawatirkan, pelanggaran tabu oleh Netanyahu ini diduga memicu efek balik yang signifikan. Retorikanya memberikan legitimasi tidak langsung bagi gelombang penyangkalan Holocaust baru di Barat, terutama di kalangan sayap kanan populis Amerika. Kemunculan tokoh media seperti Tucker Carlson yang mewawancarai penyangkal Holocaust, Nick Fuentes, disebut sebagai indikator "momen munculnya Nazisme Amerika yang baru".
Perubahan Aliansi Strategis Sayap Kanan Amerika
Analisis ini juga menyoroti pergeseran paradigma di kalangan sayap kanan Amerika generasi baru. Israel tidak lagi dilihat sebagai sekutu strategis, melainkan sebagai beban politik. Dalam iklim seperti ini, pernyataan Netanyahu tentang "Holocaust baru" justru berubah menjadi senjata makan tuan, yang digunakan oleh kelompok ekstremis untuk membenarkan permusuhan mereka terhadap orang Yahudi sendiri.
Kesimpulannya, penggunaan retorika Holocaust sebagai alat politik tidak hanya merusak kesakralan memori korban, tetapi juga membuka kotak Pandora kebencian yang justru mengancam komunitas Yahudi global dalam jangka panjang.
Artikel Terkait
Dokumen Bocor Ungkap Upaya Epstein Dekati Putin Lewat Jaringan Tingkat Tinggi
Bocornya Dokumen Epstein: Bali Masuk dalam Jejak Perjalanan Gelap
Dokumen Epstein Bocor: FBI Sorot Klaim Trump Dikendalikan Israel
Kain Suci Kabah Dikirim ke Jeffrey Epstein, Terungkap dari Dokumen Rahasia