Sheldon Yett dari UNICEF yang pernah bertugas di Rwanda selama genosida 1994 menyatakan kekhawatiran serius: "Ada gaung genosida Rwanda di sini." Laboratorium Penelitian Kemanusiaan Yale mengkonfirmasi bukti pembunuhan massal sistematis oleh RSF terhadap warga yang mencoba melarikan diri.
Kegagalan Diplomasi Internasional
Kecaman dari PBB, AS, dan Uni Eropa dinilai hanya sebagai lip service. Analis menilai komunitas internasional gagal mengambil tindakan nyata meski telah mengetahui pola kekejaman RSF di wilayah taklukkan sebelumnya. Impunitas yang dinikmati pimpinan RSF, Mohamad Hamdan "Hemedti" Dagalo, menjadi faktor pendorong terus berlanjutnya kekerasan.
Krisis Kemanusiaan yang Terus Berlanjut
UNICEF kehilangan kontak dengan relawan bantuan lokal yang menjadi ujung tombak penanganan krisis kelaparan. Banyak pekerja kemanusiaan terpaksa bersembunyi atau terus berpindah tempat karena menjadi target RSF yang menuduh mereka berkolaborasi dengan tentara.
Krisis kemanusiaan di Sudan semakin dalam dengan jatuhnya El Fasher, sementara komunitas internasional tampak tidak mampu menghentikan spiral kekerasan yang mengingatkan pada tragedi kemanusiaan terburuk di Afrika.
Artikel Terkait
Iran Perkuat Armada Drone, AS Siagakan Pasukan di Ambang Ketegangan
Iran Ancam Hantam Jantung Tel Aviv Jika AS Berani Serang
Ledakan di Teheran Bukan Serangan, Tapi Ketegangan AS-Iran Makin Menderu
Latihan Tembak Iran dan Manuver AS: Selat Hormuz Kembali Jadi Ajang Adu Kekuatan