Dalam pidatonya, Yoon menegaskan upayanya guna mencapai "perdamaian sejati dan abadi" melalui kekuatan militer dan politik serta menyusun rancangan sistem pertahanan yang lebih solid di paruh pertama tahun ini.
Baca Juga: Pesawat Japan Airlines Tabrakan dan Terbakar di Bandara Haneda, 367 Penumpang Berhasil Dievakuasi
“(Saya) menyambut dengan tangan terbuka (fakta) bahwa Presiden Yoon berencana melanjutkan kontribusi unik demi peningkatan pesat kekuatan militer negara kita,” kata Kim dalam pernyataan yang disiarkan oleh Kantor Berita Pusat Korea Utara.
Kim dengan sinis menuduh Yoon, dianggap menjadikan kecemasan mengenai keamanan negara sebagai bagian dari "kehidupan sehari-hari" di Korea Selatan.
Kim Yo-jong juga menyinggung kebijakan perbatasan mantan Presiden Moon Jae-in, ia mengklaim bahwa Pyongyang terhambat oleh upaya diplomasi perdamaian Moon Jae-in dan tidak dapat meningkatkan kekuatan militer serta dianggap “membuang-buang” waktu.
Selama masa jabatannya tahun 2017-2022, Moon meningkatkan upaya demi rekonsiliasi dan kerja sama antar Korea, tetapi upayanya gagal setelah pertemuan yang digelar di Hanoi berakhir tanpa kesepakatan antara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara pada 2019.
Korea Utara baru-baru ini memicu ketegangan antar negara dengan uji coba rudal balistik beserta kritikan keras terhadap Korea Selatan dan Amerika Serikat.
Mengakhiri rapat pleno Komite Sentral Partai Pekerja Korea Utara pada hari Sabtu, Kim Jong-un mengemukakan tujuan untuk meluncurkan tiga satelit mata-mata serta menambah persenjataan nuklirnya tahun ini.***
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: bogor.urbanjabar.com
Artikel Terkait
Pemimpin Tertinggi Iran Bersembunyi di Lokasi Rahasia, Hambat Negosiasi dengan AS
Iran Pancarkan Sinyal Diplomasi dan Perlawanan di Tengah Negosiasi dengan AS
Arab Saudi dan Kuwait Tutup Akses Pangkalan, Operasi Militer AS di Selat Hormuz Terhenti
AS dan Iran Saling Serang di Selat Hormuz, Trump Sebut Gencatan Senjata Masih Berlaku