Remaja berusia 22 tahun itu telah dirawat di rumah sakit di Gaza selama sekitar satu minggu, setelah pergelangan kakinya patah sebagian akibat serangan udara.
Pada tanggal 13 November, ketika serangan udara IDF menghantam rumah tetangga Nabahin di Bureij, pergelangan dan arteri di kakinya sebagian putus oleh gumpalan semen yang berhembus ke dalam rumahnya akibat ledakan.
Dia adalah satu-satunya anggota keluarganya yang terluka, sementara sejumlah tetangganya tewas, katanya.
Baca Juga: Presiden Prancis Semakin Mendesak Israel Untuk Segera Melakukan Gencatan Senjata di Gaza
Remaja tersebut kemudian dibawa ke Rumah Sakit Martir Al-Aqsa terdekat, di mana dokter berhasil menjahit kakinya dan menghentikan pendarahan.
Nabahin mengatakan, ia hanya mendapat sedikit perawatan atau perhatian dari para dokter karena kurangnya pasokan medis dan banyaknya korban. Alhasil beberapa hari kemudian, kakinya berubah warna menjadi gelap, katanya.
Dokter memberi tahunya bahwa dia menderita keracunan darah. Nabahin akhirnya memilih untuk memaksimalkan peluangnya untuk bertahan hidup, dan setuju untuk mengamputasi kakinya 15 sentimeter (6 inci) di bawah lutut.
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: jawapos.com
Artikel Terkait
China Batasi Drama CEO Jatuh Cinta ke Si Miskin, Sebut Sebar Harapan Palsu
Indonesia Khawatir, Langkah Trump Cabut Diri dari 66 Organisasi Internasional Dinilai Ancam Stabilitas Global
Iran Siagakan 400 Unit Tempur, Waspadai Serangan AS-Israel di Tengah Gejolak Dalam Negeri
Kapal Tanker Rusia Disita AS, Moskow Balas dengan Kapal Perang