Beliau memilih tanggal 21 Februari karena adanya peristiwa Gerakan Bahasa pada tanggal 21 Februari 1992 di Bangladesh dimana saat itu bernama Pakistan Timur.
Dikutip oleh JemberNetwork.com dari akun Youtube Majalah Bobo, pada tahun 1948 terjadi pemberontakan karena pemerintah mendeklarasikan bahwa Bahasa Urdu sebagai Bahasa resmi Negara Pakistan.
Beberapa orang dari Pakistan Timur menolak akan hal itu, karena mereka setuju dengan Bahasa Bangla. Sehingga terjadi demonstrasi dan pemberontakan yang terjadi pada tanggal 21 Februari 1952.
Sejak saat itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadikan tanggal 21 Februari sebagai Bahasa Ibu Internasional untuk melestarikan Bahasa-bahasa di dunia.
Pada peringatan Bahasa Ibu Internasional menjadikannya momentum bahasa daerah maupun Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu yang digunakan sebagai alat komunikasi yang dipergunakan oleh masyarakat Indonesia di era globalisasi dan informasi yang begitu cepat, sehingga masyarakat diharuskan untuk bisa berada di posisi multibahasa untuk mengikuti perkembangan zaman.
Dengan adanya Hari Bahasa Ibu Internasional juga diharapkan bisa meningkatkan dan menumbuhkan kembali kesadaran akar budaya yang nyaris terlupakan. Sehingga, mempertahankan bahasa ibu sangat penting supaya kekayaan bahasa dan budaya Indonesia tidak hilang. Karena bahasa dan budaya merupakan penentu kemajuan bangsa. Semakin besar suatu bangsa, maka semakin besar rasa penghormatan terhadap bahasa yang dimilikinya.***
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: jember.jatimnetwork.com
Artikel Terkait
Latihan Militer Tiga Negara di Afrika Selatan: Sinyal di Tengah Gejolak Global
Trump Klaim Hanya Moralitas Pribadi yang Bisa Menghentikannya
China Batasi Drama CEO Jatuh Cinta ke Si Miskin, Sebut Sebar Harapan Palsu
Indonesia Khawatir, Langkah Trump Cabut Diri dari 66 Organisasi Internasional Dinilai Ancam Stabilitas Global