Tapi, yang masih jadi tanda tanya besar: bagaimana sih Al-Ahmadi bisa kenal dengan Epstein? Dan untuk apa persisnya kain-kain suci itu dikirim ke dia? Email-email yang ada sama sekali nggak menjawab itu.
Di sisi lain, hubungan mereka terlihat cukup akrab. Pas Badai Irma menghantam Karibia pada September 2017 dan merusak pulau pribadi Epstein, Al-Ahmadi berkali-kali menghubungi sekretaris Epstein untuk menanyakan kabarnya.
Sekretaris itu membalas bahwa semua orang selamat, meski banyak bangunan, pohon, dan dermaga yang rusak.
Mendengar itu, Al-Ahmadi langsung menawarkan untuk mengirimkan tenda baru. Namun, nggak ada indikasi dalam email apakah dia pernah sekalipun menginjakkan kaki di pulau kontroversial Epstein atau tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana.
Ada hal aneh lain. Asisten lama Epstein, Lesley Groff, disebut-sebut mengirimkan alat tes DNA kepada Al-Ahmadi. Untuk apa? Itu juga nggak dijelaskan. Dalam kebanyakan email, Epstein sendiri jarang sekali bicara langsung. Dalam satu pesan, Al-Ahmadi minta izin ke Groff cuma untuk mampir sebentar ke rumah Epstein di New York sebelum dia meninggalkan kota.
Terpisah dari semua ini, memo FBI yang dirilis Jumat malam lalu menyebutkan hal yang lebih serius. Epstein disebut-sebut bekerja sama dengan dinas intelijen AS dan Israel. Bahkan, dia dikabarkan punya kedekatan dengan mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak, dan sempat dilatih sebagai mata-mata di bawah pengaruhnya. Kalau ini benar, maka misteri di balik Jeffrey Epstein ternyata jauh lebih dalam dan gelap dari yang kita bayangkan.
Artikel Terkait
Anggota DPR Soroti Iuran Rp 16,7 Triliun untuk Dewan Perdamaian Gaza
Khamenei Peringatkan AS: Serangan ke Iran Bakal Picu Perang Regional
Iran Ancam Balas Serangan AS dengan Hantam Israel Langsung
Dokumen Epstein Bongkar Klaim Liar Soal Bill Gates dan Tawaran Makan Malam untuk Sang Duke