Washington mengeluarkan peringatan keras. Semua warga Amerika Serikat di Venezuela diminta segera pergi. Alasannya? Ancaman dari kelompok-kelompok bersenjata yang disebut-sebut tengah memburu orang AS.
Ini terjadi tak lama setelah operasi militer AS di Caracas yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro. Ketegangan, tentu saja, langsung memuncak.
Menurut peringatan keamanan Departemen Luar Negeri AS, kelompok paramiliter pro-pemerintah, atau yang biasa dikenal sebagai 'colectivos', aktif berpatroli. Mereka mendirikan pos-pos pemeriksaan, menghentikan kendaraan, dan konon mencari target warga Amerika atau siapa pun yang dianggap mendukung mereka.
“Warga negara AS di Venezuela harus segera meninggalkan negara tersebut,” begitu bunyi imbauan resmi itu, yang dikutip media seperti The Guardian pada Minggu, 11 Januari 2026. “Warga harus tetap waspada dan berhati-hati saat bepergian melalui jalan darat.”
Peringatan ini muncul di tengah situasi yang masih panas pasca-operasi pasukan khusus AS yang dilaporkan menewaskan puluhan orang. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump malah mengklaim Venezuela kini berada di bawah kendali Amerika. Dia bahkan menyatakan keinginannya untuk berkunjung ke sana suatu hari nanti.
Sementara itu, kabar tentang kondisi Maduro datang dari putranya sendiri, Nicolás Maduro Guerra. Dalam sebuah video yang dirilis partai pemerintah PSUV, dia menyatakan ayahnya dalam keadaan baik.
“Kami baik-baik saja. Kami adalah pejuang,” ujarnya.
Namun begitu, pemerintah Venezuela justru menampik keras peringatan dari Washington itu. Melalui Kementerian Luar Negeri mereka, laporan tentang ancaman terhadap warga AS disebut sebagai upaya menciptakan ketakutan yang tak berdasar sama sekali.
Mereka bersikeras situasi di dalam negeri aman dan terkendali. Semua itu, tegas mereka, cuma “laporan palsu” yang bertujuan membentuk persepsi buruk.
Dengan beberapa rute penerbangan internasional yang mulai dibuka kembali, imbauan untuk segera keluar dari Venezuela itu kini terdengar lebih mendesak dari sebelumnya. Bagi warga AS yang masih berada di sana, situasinya jelas mencemaskan.
Artikel Terkait
Iran Tuding AS-Israel Ciptakan Perpecahan, Negara Teluk Kutuk Serangan Rudal ke Kuwait
Pemimpin Tertinggi Iran Bersembunyi di Lokasi Rahasia, Hambat Negosiasi dengan AS
Iran Pancarkan Sinyal Diplomasi dan Perlawanan di Tengah Negosiasi dengan AS
Arab Saudi dan Kuwait Tutup Akses Pangkalan, Operasi Militer AS di Selat Hormuz Terhenti