Lalu, apa sebenarnya alasan di balik keputusan kontroversial ini? Semuanya berawal dari sebuah memorandum kepresidenan yang ditandatangani Trump sehari sebelumnya, Rabu (7/1/2026).
Gedung Putih dengan gamblang menuding 66 organisasi 31 di antaranya berada di bawah PBB telah mengkhianati kepentingan nasional Amerika. Menurut mereka, uang para pembayar pajak AS selama ini cuma mengalir untuk agenda ‘globalis’ yang kerap bertolak belakang dengan nilai-nilai yang dianut Amerika sendiri. Belum lagi tuduhan pemborosan dana publik tanpa hasil yang konkret bagi keamanan dan perekonomian negeri itu.
Dampak yang Bisa Meluas
Daftar organisasi yang ditinggalkan AS ini sangat panjang dan mencakup banyak sektor vital. Ambil contoh isu lingkungan. AS memutus hengkang dari UNFCCC, badan utama yang mengawal Perjanjian Paris soal perubahan iklim.
Di bidang kesehatan, dukungan untuk WHO dan UNFPA pun dicabut. Belum lagi nama-nama besar seperti UNESCO, Dewan HAM PBB, dan UNRWA juga ikut dalam daftar ‘pemutusan hubungan’. Tak cuma badan PBB, aliansi keamanan, forum perdagangan, hingga organisasi riset kayu tropis internasional turut ditinggalkan.
Efeknya? Bisa ditebak. Lubang pendanaan yang sangat besar akan muncul, mengingat kontribusi finansial AS selama ini tidak kecil. Pertanyaannya sekarang, mampukah tatanan multilateral bertahan tanpa sokongan dari negara adidaya seperti Amerika Serikat? Hanya waktu yang bisa menjawab.
Artikel Terkait
China Batasi Drama CEO Jatuh Cinta ke Si Miskin, Sebut Sebar Harapan Palsu
Iran Siagakan 400 Unit Tempur, Waspadai Serangan AS-Israel di Tengah Gejolak Dalam Negeri
Kapal Tanker Rusia Disita AS, Moskow Balas dengan Kapal Perang
AS Akhirnya Meringkus Dua Kapal Tanker Armada Bayangan Venezuela