Di Pantai Selatan Lima, hawa panas Selasa siang itu terasa berbeda. Bukan cuma terik matahari, tapi ada aroma kemenyan dan suara mantra yang sayup-sayup terdengar. Ya, para dukun Peru lagi sibuk. Mereka menggelar ritual tahunan untuk meramalkan nasib tahun 2026 mendatang. Seperti biasa, acara ini jadi tontonan sekaligus bahan perbincangan.
Para dukun itu tampak sibuk dengan ponco warna-warni mereka. Bunga-bunga ditaburkan di atas pasir. Yang menarik, ada beberapa poster wajah-wajah familiar digenggam. Tokoh-tokoh pemimpin dunia, dari berbagai negara, jadi "bintang" utama dalam prosesi ramalan kali ini.
Poster-poster itu tak hanya dibawa-bawa. Mereka disilangi pedang, dibakar kemenyan, bahkan sempat diinjak-injak sebagai bagian dari simbol ritual. Semua punya maknanya sendiri, katanya.
Lalu, apa isi ramalannya? Salah satu dukun, Juan de Dios Garcia, memberikan pernyataan yang cukup mengejutkan.
"Amerika Serikat harus bersiap-siap. Donald Trump akan jatuh sakit parah."
Itu bukan satu-satunya. Garcia juga bicara soal Venezuela.
"Kami melihat Nicolas Maduro dikalahkan. Dia akan melarikan diri dari Venezuela. Tapi, dia tidak akan ditangkap."
Selain Trump dan Maduro, wajah Vladimir Putin, Xi Jinping, hingga Volodymyr Zelensky juga menghiasi ritual itu. Nasib mereka pun sepertinya "diatur" dalam semacam pertunjukan spiritual di tepi pantai Peru ini.
Namun begitu, kita harus ingat. Ritual seperti ini sudah jadi tradisi tahunan. Dan jujur saja, track record-nya tidak selalu akurat. Ambil contoh tahun 2023 lalu.
Saat itu, para dukun meramalkan perang Rusia-Ukraina akan berakhir di tahun 2024. Faktanya? Hingga akhir 2025 ini, konflik yang dimulai sejak 2022 itu masih terus berlangsung, tanpa tanda-tanda akan mereda dalam waktu dekat.
Jadi, ramalan ini boleh jadi menarik untuk disimak. Tapi, ambillah dengan sedikit skeptisisme. Dunia politik internasional memang penuh kejutan, tapi mungkin tidak sepenuhnya bisa dibaca dari taburan bunga dan asap kemenyan di sebuah pantai.
Artikel Terkait
Iran Tuding AS-Israel Ciptakan Perpecahan, Negara Teluk Kutuk Serangan Rudal ke Kuwait
Pemimpin Tertinggi Iran Bersembunyi di Lokasi Rahasia, Hambat Negosiasi dengan AS
Iran Pancarkan Sinyal Diplomasi dan Perlawanan di Tengah Negosiasi dengan AS
Arab Saudi dan Kuwait Tutup Akses Pangkalan, Operasi Militer AS di Selat Hormuz Terhenti