Menjelang sidang lanjutannya di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin lalu, eks Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer yang akrab disapa Noel menyempatkan diri memberi peringatan keras. Peringatan itu ditujukan kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Intinya sederhana: awas, nasib Anda bisa seperti saya.
Di depan kerumunan wartawan, nada Noel terdengar serius, bahkan sedikit mengkhawatirkan. Dia seolah-olah mendapat kabar dari dalam.
"Dan juga pesan nih buat Pak Purbaya, nih. Pesan, Pak Purbaya. Modusnya hampir sama semua. Hati-hati, Pak Purbaya. Sejengkal lagi, nih. Saya mendapatkan informasi A1, Pak Purbaya akan di-'noel'-kan. Hati-hati tuh, Pak Purbaya,"
Ucapannya itu jelas bukan sekadar sindiran biasa. Noel tampaknya yakin bahwa Purbaya sedang dalam ancaman. Ancaman apa? Hukum. Menurut dia, sang menteri akan diburu dan diserang jika berani mengusik kepentingan kelompok tertentu yang dia sebut sebagai "bandit".
"Siapapun yang mengganggu pesta para bandit-bandit ini, mereka akan melepaskan anjing liar untuk gigit Pak Purbaya. Kasihan Pak Purbaya. Ada pesta yang terganggu,"
Ungkapan metaforis "anjing liar" dan "pesta bandit" itu menggambarkan situasi yang menurut Noel penuh intrik dan bahaya. Peringatannya muncul di tengah proses hukum yang sedang dia jalani sendiri.
Noel sendiri sedang berhadapan dengan dakwaan KPK atas kasus pemerasan terkait pengurusan sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Jaksa menuduh dia, bersama sejumlah ASN di Kemnaker, meminta jatah hingga Rp 3 miliar. Sidang untuk kasus ini sudah berjalan terpisah sejak beberapa waktu lalu.
Lebih detail lagi, jaksa menyebut total uang yang diduga dipaksa dari para pemohon sertifikasi mencapai angka Rp 6,5 miliar lebih. Yang menarik, periode kejadiannya disebutkan mulai dari 2021 atau sebelum Noel memangku jabatan sebagai wamen. Artinya, kasus ini membayangi karirnya dari masa lalu.
Dengan latar belakang itulah, peringatan Noel kepada Purbaya terasa punya bobot tertentu. Bukan cuma soal dua nama, tapi seolah menyiratkan ada pola yang berulang. Sebuah pola yang, dalam pandangannya, bisa menjerat siapa saja yang mencoba melawan arus.
Artikel Terkait
KPK Bergerak Serentak: Jakarta dan Banjarmasin Diguncang OTT
Di Balik Penampilan Prima Jokowi, Tradisi Hukum Kuno yang Masih Membayangi
Jaringan Judi Online Berbasis Kamboja Dibongkar dari Kamar Kos Palembang
Desakan Keras: Aparat Hukum Didorong Periksa Jokowi Terkait Dua Kasus Besar