Lebih lanjut, Perdana Menteri perempuan pertama Selandia Baru itu menekankan bahwa Lees-Galloway gagal menjadi contoh perilaku yang diharapkan dari seorang menteri. Kemampuannya dalam menetapkan standar dan budaya kerja yang baik juga dipertanyakan.
Fakta yang memperburuk situasi adalah status Lees-Galloway sebagai suami dan ayah tiga anak. Terhadap skandal yang menjatuhkannya, mantan Menteri Imigrasi ini mengakui kesalahannya dan menyatakan penyesalan telah mengecewakan keluarga.
Skandal ini terungkap berkat laporan dari pemimpin oposisi Judith Collins yang mendesak tindakan tegas terhadap perilaku tidak etis menteri tersebut. Situasi politik saat itu memang sedang sensitif menyusul pengunduran diri kolega Partai Nasional, Andrew Falloon, karena skandal pesan tidak senonoh.
Kasus pemecatan Iain Lees-Galloway menjadi pembelajaran berharga tentang pentingnya integritas dan etika dalam pemerintahan. Peristiwa ini memicu diskusi nasional mengenai standar moral yang harus dijunjung tinggi oleh para pejabat publik di Selandia Baru.
Artikel Terkait
Pandji Pragiwaksono Berurusan dengan Hukum, Konten Mens Rea Dituduh Penistaan
Ressa Rizky Rossano Gugat Denada di PN Banyuwangi, Klaim Anak Kandung dan Tuntut Miliaran
KPK Amankan Pegawai Pajak Jakarta Utara dalam OTT Malam Jumat
Mushaf dan Perlengkapan Salat: Kado Terakhir Ridwan Kamil untuk Atalia