ungkap Levi, suaranya terdengar geram.
Dampak dari insiden beruntun itu sungguh mengerikan. Tubuh Lexi mengalami kehancuran. Tulang ekornya remuk, memaksa dokter memasang pen secara permanen. Organ dalamnya tak luput dari petaka: ginjal bergeser dan sempat berhenti berfungsi, paru-paru terendam cairan darah, hingga hati yang robek. Setahun penuh ia bergantung pada kateter dan kursi roda. Kini, meski mulai belajar berjalan dengan tongkat, kenyataan pahit harus dihadapinya: kelumpuhan permanen. Untuk tidur pun, ia harus menggunakan kasur dekubitus khusus.
Dua tahun keluarga ini berjuang sendirian. Menjalani pengobatan intensif dengan biaya sendiri, sekaligus mencoba bernegosiasi dengan pihak kampus untuk meminta pertanggungjawaban. Namun, jalan yang mereka tempuh seolah buntu.
“Mengingat sudah dua tahun berlalu begitu saja tanpa penyelesaian pasti dan kesulitan berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait,”
alasan Levi akhirnya membawa kasus ini ke ranah publik.
Pada Sabtu, 31 Januari 2026 lalu, upaya mereka mencari keadilan tampak jelas. Keisya Levronka bersama sang kekasih, Nyoman Paul, mendampingi Levi mendatangi kampus Untar. Mereka menuntut pertanggungjawaban atas kelalaian yang mengubah hidup Lexi selamanya.
Hingga detik ini, keluarga itu masih menunggu. Menunggu itikad baik dan langkah nyata dari universitas. Musibah yang merenggut masa depan seorang pemuda telah membuatnya harus menjalani terapi seumur hidup. Dan bagi Levi, perjuangan untuk putranya belum berakhir.
Artikel Terkait
Rumor Pernikahan Dini Ressa Rizky Rosano Bergulir di Tengah Isu Pengakuan Denada
Malam Ini di Cinta Sepenuh Jiwa: Hasbi Berkhianat dan Kabur, Suryono Biarkan Anaknya Jadi Buronan
Misteri Bercak Darah di Kamar Lula Lahfah Terungkap
Gugatan Rp 7 Miliar, Ressa Rosano Tuntut Pengakuan sebagai Anak Denada