"Saat terbangun, mobil sudah terparkir di depan sebuah gereja. Kecil, tua, dindingnya kusam berwarna krem. Aku mengenal tempat ini. Ini gereja yang sama tempat ia dulu memaksaku mengaku dosa. Lalu tiba momen meminta restu. Aku berlutut, tapi orang tuaku tidak ada di sana," tutur Aurelie.
Ia merasa semuanya diatur oleh Bobby. Bahkan orang tua pun dipalsukan.
"Saat pastor memberi isyarat, Bobby membungkuk dan berbisik, ‘Berlutut. Anggap mereka orang tuamu,’ sambil menunjuk pasangan lansia di samping orang tuanya," tulisnya lagi.
Ia menggambarkan kejadian itu dengan detail yang menyayat. "Di bangku depan duduk pasangan Tionghoa lansia yang belum pernah kulihat. Mereka menatap, menunggu. Aku menunduk, berlutut, dan berbisik kikuk, ‘Halo... maaf, saya nggak tahu harus bilang apa.’ Perempuan itu lalu membalas dengan ramah, ‘Sudah, tidak apa-apa. Pura-pura saja.’"
Belakangan, ibu kandung Aurelie mengonfirmasi pernikahan itu langsung ke gereja. Dan di situlah kebenaran pahit terungkap. Pernikahan mereka ternyata tidak sah. Semua hanya akal-akalan untuk mengelabui Aurelie.
Ibu Aurelie menjelaskan, "Dalam Gereja Katolik, nama calon mempelai harus diumumkan di hadapan jemaat beberapa minggu sebelum pernikahan. Itu prosedur wajib, biar kalau ada yang keberatan bisa mencegah."
Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Pihak gereja menurut pengakuan mereka sendiri sengaja mengumumkan nama Aurelie dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Mereka mengaku, waktu namamu dan nama Bobby disebut, volume mikrofon sengaja diturunkan. Supaya tidak ada yang sadar," tulis Aurelie mengutip penuturan ibunya.
Begitulah kisahnya. Sebuah pernikahan yang dari awal dibangun di atas paksaan dan tipu daya.
Artikel Terkait
Vira Yuniar: Pesona Tak Lekang Waktu dari Ratu Sinetron 90-an
Ello Anggap Buku Broken Strings Aurelie: Tipis Tapi Padat
Doktor Pariwisata Tersandung Kasus Penipuan Investasi Rp 400 Juta
Gereja Buka Suara Soal Pernikahan Aurelie dan Roby: Ada Pernikahan, Tapi...