Nama Pandji Pragiwaksono lagi-lagi ramai. Pemicunya, sebuah potongan materi stand-up-nya yang menyentuh Gibran Rakabuming Raka yang menyebar luas di media sosial. Tapi, sebenarnya ini bukan hal baru. Sejak dulu, komika yang satu ini memang tak pernah sungkan mengangkat isu sosial dan politik di atas panggung. Kritiknya, yang dibungkus dengan humor satir, selalu berhasil memantik perdebatan publik.
Kalau ditelusuri, Gibran bukan satu-satunya figur yang kena sasaran. Dalam perjalanan kariernya, Pandji sudah menyentil banyak nama besar. Dari politisi hingga aparat penegak hukum. Tujuannya sederhana: mengajak penonton untuk berpikir, sambil tetap tertawa.
Lalu, siapa saja yang pernah kena sindir?
Gibran Rakabuming Raka tentu yang paling hangat dibicarakan belakangan. Sindiran Pandji muncul sebagai bagian dari kritiknya terhadap fenomena kekuasaan dan politik dinasti yang sedang ramai diperbincangkan.
Prabowo Subianto juga tak luput. Salah satu materi yang sempat disorot adalah komentarnya soal citra "gemoy" yang dibangun.
"Ngomong-ngomong Prabowo gemoy itu fatal banget ya, lupa ya ada intel di antara kita," ucap Pandji dalam sebuah pertunjukan, yang kemudian dikutip ulang di kanal YouTube-nya pada Kamis, 15 Januari 2026.
Dharma Pongrekun disebutnya saat membahas soal figur "pemberani" dalam politik. Sindirannya halus tapi tajam, mempertanyakan apakah keberanian saja cukup tanpa diimbangi kapasitas yang mumpuni.
"Kalau dia berani tapi gila, lho lho lho," candanya suatu kali.
Tak hanya politisi, dunia penegak hukum pun jadi sasaran. Dalam konteks kritik atas integritas institusi, Pandji menyebut nama Ferdy Sambo. Kasus besar itu dijadikannya contoh untuk menyoroti betapa kepercayaan publik bisa begitu mudah tercabik.
Masih terkait Polri, nama Teddy Minahasa juga sempat meluncur. Sindiran ini jelas bagian dari kritik sosial terhadap penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan.
"Nggak semua polisi seperti Irjen Teddy Minahasa," ujarnya, menyisipkan pesan bahwa masih banyak anggota yang baik di tengokannya.
Nah, di balik semua sindiran itu, Pandji punya penjelasan. Baginya, ini bukan urusan pribadi. Stand-up comedy adalah medium untuk membongkar fenomena dan persoalan struktural yang lebih besar di masyarakat.
"Mens Rea itu tidak didesain untuk mengubah para politisi, karena percuma," katanya blak-blakan.
Ia justru percaya, komedi adalah sarana kritik yang efektif. Disampaikan dengan ringan, tapi maknanya bisa nyangkut lebih dalam. Lewat humor, isu-isu berat jadi lebih mudah dicerna publik.
Di tengah sorotan yang tak kunjung reda, Pandji tampaknya tak akan berhenti. Ia malah sedang sibuk menyiapkan pertunjukan baru dengan tema-tema yang relevan dengan kondisi terkini. Konsistensinya inilah yang menegaskan satu hal: kritik melalui komedi akan tetap menjadi jiwa dari kreativitasnya di dunia stand-up Indonesia.
Artikel Terkait
MNCTV dan GTV Gelar Festival Keluarga dan Aksi Sosial di Karawang
Manajer Ungkap Dampak Ekonomi Vonis 6 Tahun Nikita Mirzani: Kontrak Jangka Panjang Batal
Shindy Fioerla Ungkap Body Shaming dari Suami, Jadi Motivasi Jalani Operasi Bariatrik
Video Viral Ibu Tiri vs Anak Tiri Jadi Modus Kejahatan Siber, Pakar Ingatkan Bahaya Phishing hingga Ransomware