Boyke Bongkar Stereotip: Mayoritas Pria Homoseksual Ternyata Berbadan Atletis

- Kamis, 11 Desember 2025 | 12:40 WIB
Boyke Bongkar Stereotip: Mayoritas Pria Homoseksual Ternyata Berbadan Atletis

dr. Boyke Bicara Soal Orientasi Seksual, Ungkap Fakta yang Bikin Kaget

Nama dr. Boyke Dian Nugraha ramai lagi. Kali ini, setelah dia muncul sebagai bintang tamu di podcast Butik Haji Igun milik Ivan Gunawan.

Obrolan mereka berdua ternyata menyentuh topik yang selalu bikin penasaran: soal orientasi seksual. Ivan Gunawan sendiri yang memulainya. Dia menyinggung soal kesan lembut yang sering melekat pada sosok Boyke, yang kerap membuat netizen bertanya-tanya.

“Dokter jujur, banyak nggak yang nyangka dokter hom"? Karena dokter kan lemah lembut gitu kan,” tanya Ivan di podcast itu, seperti yang beredar Kamis lalu.

Boyke mengiyakan. Menurutnya, dia memang sering dapat pesan, bahkan DM langsung, yang isinya cuma satu: menanyakan orientasi seksualnya. Rupanya, ini hal yang lumrah dia terima.

“Pada nge-chat, kalau nge-DM juga kan kadang-kadang kan mereka (tanya),” ucap Boyke.

Di sinilah Boyke mulai menjelaskan panjang lebar. Menurut dia, kesalahpahaman ini muncul karena masyarakat masih suka menyamaratakan. Kelembutan sering dikait-kaitkan dengan identitas tertentu, padahal kenyataannya jauh lebih kompleks.

Gambaran kebanyakan orang tentang penyuka sesama jenis, kata Boyke, nggak akurat. Selama ini yang terpikir mungkin sosok yang lemah gemulai. Tapi faktanya, kata dia, itu cuma sebagian kecil.

“Tapi kan kita selalu bilang, yang lemah lembut itu kan 10-15 persen (penyuka sesama jenis),” jelas Boyke.

Lalu, yang mayoritas seperti apa?

Boyke punya jawaban yang mungkin bikin banyak orang mengernyit. Sebagian besar justru pria dengan tubuh atletis, rajin nge-gym, dan penampilannya sangat maskulin. Mereka ini, kata Boyke, justru banyak ditemui di pusat-pusat kebugaran.

“85 persen justru yang ke gym yang ketemuannya kayak begitu (penyuka sesama jenis),” tegasnya.

Alasannya? Boyke menyebut soal narsisme. Pria-pria yang rajin membentuk tubuhnya itu sangat mencintai fisik mereka sendiri. Karena itulah, mereka cenderung tertarik pada pasangan yang punya fisik serupa terawat, berotot, dan ideal.

“Jadi mereka narsis, mereka juga mencintai badannya yang bagus itu. Karena badannya udah bagus, dia akan mencari juga badannya yang bagus,” terangnya.

Nah, di sisi lain, Boyke melihat sebuah ironi. Sosok pria berotot dan six-pack itu justru belum tentu dikagumi banyak perempuan. Ketertarikan justru lebih banyak datang dari sesama jenis.

“Karena kalau narsis kan dikagumi sama orang-orang, badannya six pack, otot-otot bisepnya keluar. Nah yang naksir itu kan sedikit perempuan,” ujar dokter Boyke.

Penjelasannya ini, mau tak mau, membongkar stereotip yang selama ini beredar. Boyke secara tak langsung membantah anggapan bahwa kelembutan adalah penanda utama. Realitanya, kata dia, lebih beragam dan sering kali justru bertolak belakang dengan bayangan orang awam.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar