Ribuan Kayu Gelondongan Berlabel Kemenhut Serbu Pantai Lampung, Ternyata Ini Penyebabnya

- Selasa, 09 Desember 2025 | 16:50 WIB
Ribuan Kayu Gelondongan Berlabel Kemenhut Serbu Pantai Lampung, Ternyata Ini Penyebabnya

Kayu Berlabel Kemenhut Memenuhi Pantai Lampung, Ini Penjelasannya

Penampakan ribuan batang kayu gelondongan yang terdampar di sepanjang Pantai Tanjung Setia, dari Pesisir Barat hingga Lampung, sempat bikin heboh. Yang bikin publik makin penasaran, beberapa batang kayu itu ternyata ditempeli label bertuliskan Kementerian Kehutanan.

Label berwarna kuning itu tak cuma mencantumkan nama Kemenhut RI, tapi juga ada nama perusahaan: PT Minas Pagai Lumber. Di bagian bawahnya, terpampang logo dan tulisan SVLK Indonesia singkatan dari Sistem Verifikasi Legalitas Kayu. Barcode-nya jelas terlihat, seolah punya cerita sendiri yang ingin disampaikan.

Lantas, dari mana asal muasal kayu-kayu ini? Banyak yang menduga ini terkait banjir besar di Sumatra. Ternyata, dugaan itu meleset.

Menurut Ade Mukadi, Direktur Iuran dan Penatausahaan Hasil Hutan di Ditjen Pengelolaan Hutan Lestari Kemenhut, kayu tersebut berasal dari kecelakaan kapal.

"Kayu yang ditemukan di Lampung bukan hanyut akibat banjir di Sumatra," tegas Ade.

Dia menjelaskan, sebuah tugboat milik perusahaan pemegang izin HPH, PT Minas Pagai Lumber, mengalami masalah di perairan Mentawai, Sumatra Barat. Perusahaan ini sendiri punya izin sah yang sudah diperpanjang hingga 2013.

"Mesin tugboat mati dan terkena badai sejak 6 November 2025 sehingga ada banyak kayu yang jatuh dari tugboat tersebut," ujarnya.

Soal label yang menempel, Ade menerangkan bahwa itu adalah bagian dari sistem penelusuran kayu. Barcode SVLK itu fungsinya untuk memastikan keabsahan kayu dan asal-usulnya, sebagai upaya mencegah praktik penebangan liar.

Di sisi lain, fakta di lapangan menunjukkan sekitar 4.800 kubik kayu dari berbagai jenis masih teronggok di pantai. Polda Lampung bersama Balai PHL sudah turun memeriksa. Polisi juga sedang mengusut lebih lanjut dengan memeriksa para anak buah kapal yang terlibat.

Jadi, meski pemandangannya mirip bencana, kejadian ini lebih tepat disebut musibah pengangkutan. Badai dan mesin kapal yang mogok jadi biang keroknya, bukan luapan air sungai.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar