Jeremy Teti Ditegur Atasan Gara-Gara Pakai Jas Saat Liput Perang

- Senin, 08 Desember 2025 | 12:20 WIB
Jeremy Teti Ditegur Atasan Gara-Gara Pakai Jas Saat Liput Perang

Jeremy Teti dan Jasnya di Tengah Baku Tembak

Kalau ngomongin news anchor era 90-an, dua nama ini pasti langsung keinget: Jeremy Teti dan Ira Koesno. Mereka punya gaya khas, tegas, dan citra profesional yang nempel banget di ingatan penonton. Nggak heran sih, mereka jadi ikon.

Belum lama ini, mereka kembali muncul di layar kaca dalam sebuah acara. Obrolannya seru, penuh nostalgia, dan bikin kita flashback ke masa-masa jurnalisme televisi masih punya aura tertentu. Menjadi pembaca berita kala itu, kata mereka, adalah sebuah kebanggaan yang nggak main-main.

Jeremy sendiri mengaku senang bisa dikenal luas. “Bisa terkenal di Indonesia senang dan bangga,” ujarnya dengan nada khasnya yang tenang.

“Karena mewakili sebuah program news sampai akhirnya bisa populer.”

Namun begitu, di balik kesan serius itu, tersimpan cerita-cerita unik yang kadang bikin geleng-geleng. Salah satunya datang dari pengalaman Jeremy saat meliput konflik di Timor Timur yang waktu itu masih menjadi bagian dari Indonesia.

Bayangkan saja suasana di lapangan. Suara tembakan dan ledakan mungkin jadi musik latar yang konstan. Tapi Jeremy? Dia justru tampil dengan setelan jas rapi, berdiri tegak untuk melaporkan situasi. Penampilannya itu, kontras banget dengan latar belakang ‘dar der dor’ yang mencekam.

Ira Koesno yang mendampinginya di studio tertawa geli saat mengenang momen itu.

“Waktu itu kan liputan di Timor Timur ya. Dia pakai jas dong pas liputan. Di belakang dar der dor, terus dia pakai jas liputannya,” cerita Ira, disambut tawa audiens.

Lucunya, aksi ‘perang pakai jas’ itu malah berujung protes. Pemirsa zaman itu yang belum kenal media sosial membanjiri kantor berita dengan telepon, email, bahkan faks. Alhasil, sepulang dari tugas, Jeremy dapat ‘oleh-oleh’ spesial: Surat Peringatan.

“Dia pulang ke kantor dikasih SP. Ya masa liputan perang, pakai jas,” lanjut Ira sambil tertawa.

“Dia ini memang dari dulu out of the box.”

Ruben Onsu yang jadi host pun penasaran. “Dikasih SP karena baju?” tanyanya memastikan.

“Iya, karena pada dasarnya diprotes sama pemirsa kan,” jelas Ira. “Zaman dulu kan nggak ada media sosial. Tapi telepon berdering-dering sama email dan fax pada zaman itu.”

Cerita itu mungkin terkesan sepele. Tapi justru di situlah karakternya kelihatan. Di satu sisi, Jeremy adalah jurnalis dedikatif yang berani terjun ke zona berbahaya. Di sisi lain, dia punya gaya eksentrik yang nggak bisa dilupakan bahkan oleh atasannya sendiri.

Meski sempat ditegur lewat SP, nama Jeremy Teti tetap meninggalkan jejak yang dalam. Dia dikenang bukan cuma sebagai pembaca berita, tapi sebagai sosok dengan karakter kuat yang membawa warna tersendiri di layar televisi Indonesia. Gaya itu, mau diapakai jas di medan perang sekalipun, ternyata jadi bagian dari sejarah yang justru membuatnya dikenang.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar