Anak Gritte Agatha Kritis di IGD: Ternyata Ini Pemicu Kejang yang Sering Diabaikan!

- Rabu, 29 Oktober 2025 | 15:06 WIB
Anak Gritte Agatha Kritis di IGD: Ternyata Ini Pemicu Kejang yang Sering Diabaikan!
Anak Gritte Agatha Kejang dan Positif Rhinovirus: Gejala & Penanganan

Kisah Haru Anak Gritte Agatha Kejang Demam hingga Positif Rhinovirus

YouTuber Gritte Agatha membagikan pengalaman menegangkan ketika putrinya, Agatha Hidayat (10 bulan), harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami kejang demam. Melalui unggahan di Instagram @gritteagathaa, ia mengungkapkan kesedihan mendalamnya melihat sang bayi menjalani perawatan intensif di IGD.

Hatinya hancur menyaksikan buah hatinya harus dipasangi infus dan oksigen, diambil sampel darahnya, diberi obat melalui dubur, hingga menjalani prosedur rontgen paru-paru.

"Semuanya terjadi dalam waktu kurang dari 20 menit. Sebagai ibu baru, aku sering ambil keputusan pakai data dan informasi. Sampai lupa, ada satu hal yang juga harus aku percaya juga: naluri seorang ibu," tulis Gritte dalam captionnya.

Gejala Awal dan Penyesalan yang Dialami

Gritte bercerita bahwa Agatha sudah menunjukkan gejala batuk dan pilek sejak 30 September 2025, dengan badan yang terasa hangat. Sayangnya, pengukuran suhu dengan termometer telinga menunjukkan hasil yang normal. Ia pun menyesal tidak mengecek ulang suhu tubuh Agatha menggunakan termometer ketiak yang mungkin lebih akurat.

Pada malam kejadian, Gritte tidur bersama Agatha hingga tiba-tiba putrinya mengalami kejang. Dengan sigap, ia melakukan pertolongan pertama dengan memiringkan badan Agatha, sementara sang suami, Arif Hidayat, merekam kejadian tersebut untuk konsultasi dengan dokter anak. Mereka pun segera membawa Agatha ke rumah sakit.

Diagnosis dan Penyebab Kejang: Rhinovirus

Setelah pemeriksaan di IGD, suhu tubuh Agatha ternyata mencapai 39,5 derajat Celsius. Hasil pemeriksaan darah dan rontgen paru mengonfirmasi adanya infeksi.

"Hasil swab panel virus menunjukkan Agatha positif RHINOVIRUS. Ini adalah jenis virus yang paling sering menyebabkan pilek biasa pada manusia. Kami bersyukur karena ini termasuk common virus. Dokter bilang biasanya akan sembuh dalam 2-3 minggu," jelas Gritte mengenai penyebab kejang pada anaknya.

Selama perawatan di rumah sakit, Agatha mendapatkan obat dan vitamin dari dokter, serta menjalani nebulisasi dan fisioterapi sesuai anjuran dokter THT dan dokter saraf anak.

"Melihat anak sekecil itu harus menjalani ini semua, rasanya campur aduk. Selama Agatha sakit, cuma aku yang dia mau. Di situ aku merasa bersalah banget, harusnya Agatha enggak perlu sampai di sini," tutur Gritte dengan haru.

Ia bersyukur atas dukungan sang suami yang selalu hadir dan mengingatkannya bahwa ia telah melakukan yang terbaik untuk buah hati mereka.

Setelah dirawat selama 4 hari 3 malam, kondisi Agatha akhirnya pulih. Gritte memutuskan untuk sementara tidak membawa Agatha ke tempat keramaian agar fokus pada proses pemulihan sepenuhnya.

"Dari kejadian ini aku belajar, boleh salah, nggak harus sempurna. Yang penting, hadir dan lakukan yang terbaik yang kita bisa. Untuk semua ibu yang lagi belajar jadi versi terbaiknya, pelan-pelan aja. It's okay," tutup Gritte dengan pesan menghibur.

Apa Itu Rhinovirus? Penyebab Pilek Biasa

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, rhinovirus adalah penyebab paling umum dari flu biasa atau common cold. Virus ini juga dapat memicu serangan asma.

Sebagian besar infeksi rhinovirus bersifat ringan atau bahkan tanpa gejala. Namun, pada anak dengan sistem imun lemah, riwayat asma, atau kondisi medis tertentu, infeksi ini dapat berkembang menjadi lebih serius. Rhinovirus termasuk dalam kelompok virus yang sama dengan enterovirus non-polio.

Gejala Rhinovirus pada Anak yang Perlu Diwaspadai

Gejala rhinovirus biasanya tidak langsung muncul. Masa inkubasinya adalah 2-3 hari setelah terpapar, dan gejalanya dapat berlangsung selama 10-14 hari.

Gejala umum infeksi rhinovirus meliputi:

  • Hidung meler atau tersumbat
  • Batuk
  • Bersin-bersin
  • Sakit tenggorokan
  • Sakit kepala
  • Nyeri tubuh ringan
  • Demam (biasanya antara 38,3-38,9 derajat Celsius)

Meski jarang, infeksi dapat berkembang menjadi lebih parah dengan gejala seperti:

  • Mengi dan sesak napas (serangan asma)
  • Infeksi telinga tengah
  • Infeksi sinus
  • Bronkiolitis
  • Bronkitis
  • Pneumonia (infeksi paru-paru)

Anak-anak, terutama yang berada di tempat penitipan anak, lebih rentan tertular. Dalam dua tahun pertama kehidupannya, seorang anak bisa mengalami 8 hingga 10 kali pilek.

Cara Menangani Anak yang Terinfeksi Rhinovirus

Jika si kecil menunjukkan gejala, yang terpenting adalah tidak panik. Pastikan anak cukup beristirahat dan terhidrasi dengan baik, terutama jika disertai demam.

Untuk bayi berusia 3 bulan atau lebih muda yang menunjukkan gejala pilek, disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter anak untuk menyingkirkan kemungkinan pneumonia atau bronkiolitis. Hindari memberikan obat bebas tanpa resep dokter.

"Sebagian besar infeksi rhinovirus bersifat ringan dan tidak memerlukan pengobatan khusus. Antibiotik tidak efektif untuk melawan virus," seperti dikutip dari Healthy Children.

Segera bawa anak ke dokter jika muncul tanda-tanda bahaya seperti:

  • Bibir atau kuku membiru
  • Sulit bernapas
  • Batuk yang menetap dan memburuk
  • Kelelahan ekstrem
  • Kemerahan atau nyeri di telinga (mengindikasikan kemungkinan infeksi telinga)

Langkah Pencegahan Rhinovirus

Pencegahan adalah kunci. Lindungi anak, terutama bayi di bawah tiga bulan, dari kontak dengan orang yang sedang pilek. Ajari dan biasakan anak untuk mencuci tangan secara rutin dengan sabun dan air mengalir untuk meminimalkan risiko penularan virus.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar