Peraturan baru soal anak dan gawai akhirnya resmi berlaku. Sejak Sabtu, 28 Maret 2026, PP TUNAS atau Peraturan Pemerintah No. 17/2025 mulai dijalankan. Intinya, anak di bawah 13 tahun sama sekali dilarang buka media sosial. Sementara untuk remaja usia 13-16 tahun, aksesnya dibatasi ketat. Langkah ini jelas jadi angin segar bagi banyak orang tua yang khawatir, tapi di sisi lain, bisa juga memicu perlawanan dari anak-anak yang sudah kecanduan.
Reaksi dari platform digital pun berdatangan. Twitter atau X, misalnya, langsung menaikkan batas usia minimum penggunanya jadi 16 tahun. Platform lain yang digemari anak-anak, seperti TikTok dan Roblox, juga menunjukkan sikap kooperatif. Menurut Menkominfo Meutya Hafid, TikTok akan menonaktifkan akun pengguna di bawah 16 tahun secara bertahap.
“Penonaktifan akun anak di bawah 16 tahun itu berjalan secara bertahap,” jelasnya.
Sementara Roblox bersiap menyediakan fitur khusus. Nantinya, pengguna berusia di bawah 13 tahun hanya bisa bermain secara offline, tanpa koneksi internet. Ini perubahan yang cukup signifikan.
Nah, di tengah aturan baru ini, peran orang tua justru makin krusial. Larangan saja tidak cukup. Anak perlu diajari cara bijak berinteraksi dengan teknologi. Kalau tidak, mereka bisa mencari celah atau malah memberontak. Berikut beberapa tips yang mungkin bisa dicoba untuk mengatasi kecanduan gadget pada anak.
1. Buat Aturan Waktu yang Jelas
Coba tetapkan batas waktu penggunaan. Misal, cuma 1-2 jam sehari di luar jam belajar. Kuncinya sih konsisten. Jangan hari ini ketat, besok longgar. Fitur kontrol orang tua di berbagai aplikasi bisa jadi sekutu Anda untuk memantau dan membatasi.
2. Cari Pengganti yang Seru
Gadget sering jadi pilihan karena dianggap paling menghibur. Tugas kita adalah menawarkan alternatif lain yang lebih menarik. Ajak mereka main sepeda, eksplorasi hobi baru seperti menggambar, atau sekadar membaca buku cerita bersama. Aktivitas fisik dan kreatif ini jauh lebih sehat untuk perkembangan mereka.
3. Orang Tua Harus Jadi Contoh
Ini yang paling sulit mungkin. Anak itu peniru ulung. Percuma saja melarang mereka main HP kalau kita sendiri asyik scroll media sosial sepanjang hari. Coba kurangi, setidaknya saat sedang bersama anak. Fokuslah pada obrolan dan interaksi langsung. Mereka akan merasakan perhatian itu.
4. Siapkan “Zona Bebas Gadget” di Rumah
Buat kesepakatan, area tertentu di rumah harus steril dari gawai. Ruang makan dan kamar tidur adalah dua tempat yang ideal untuk memulai. Makan malam jadi waktu berkumpul keluarga yang lebih berkualitas, sementara kamar tidur bebas gadget akan meningkatkan kualitas tidur anak.
5. Bicarakan Baik-baik, Bukan Sekadar Larang
Anak perlu memahami “mengapa” mereka harus mengurangi screen time. Jelaskan dengan bahasa sederhana tentang risikonya: mata lelah, sulit tidur, atau jadi kurang konsentrasi belajar. Diskusi yang terbuka membuat anak merasa dihargai, sehingga mereka lebih mau bekerja sama.
Lima langkah di atas bukan formula ajaib yang langsung berhasil dalam semalam. Butuh kesabaran dan komitmen. Namun, dengan hadirnya PP TUNAS sebagai payung hukum, setidaknya orang tua punya landasan lebih kuat untuk mulai membangun kebiasaan digital yang lebih sehat dalam keluarga. Perjalanan masih panjang, tapi harus dimulai dari sekarang.
Artikel Terkait
Gen Z Dinilai Lebih Rentan Alami Duck Syndrome, Psikiater Ungkap Cara Mengatasinya
Ribuan Warga Padati Lapangan Pancasila Semarang di Acara Road To Kilau Raya MNCTV
Lima Pasangan Zodiak Dinilai Kurang Cocok karena Perbedaan Karakter Mendasar
Puasa Tarwiyah dan Arafah 2026: Niat, Tata Cara, serta Keutamaan Penghapusan Dosa Jelang Idul Adha