Hasanuddin juga menyebut, pesantren diharapkan mulai mengajarkan berbagai bidang keilmuan modern seperti teknologi digital, ekonomi, manajemen, sains, dan kesehatan.
"Sebanyak 60 persen responden menginginkan agar pesantren memasukkan ilmu komputer dan digitalisasi dalam kurikulum," ujarnya.
Transformasi Pesantren di Era Digital
Tokoh Muhammadiyah, Sunanto menilai pesantren saat ini telah banyak bertransformasi dibandingkan masa lalu. Jika dulu pesantren bersifat tertutup, kini santri hidup di tengah dunia yang semakin terbuka.
"Hal-hal yang dulu dianggap baik belum tentu sesuai dengan konteks sekarang. Santri perlu beradaptasi dengan perubahan zaman," ujarnya.
Menurutnya, tantangan santri di era digital terletak pada kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan nilai-nilai pesantren.
"Dulu santri sulit mendapat informasi, sekarang justru banjir informasi. Jangan sampai nilai-nilai pesantren hilang karena kebebasan yang tidak terkendali," ujarnya.
Tips untuk Santri Gen Z dari Alumni Sukses
Konten kreator yang juga alumni santri asal Bone, Sulawesi Selatan, Rinaldi Nur Ibrahim mengungkapkan, santri generasi saat ini harus bisa menguasai semua hal, tidak hanya dalam bidang agama.
"Saya dulu bercita-cita ingin jadi orang berpengaruh. Saya coba wujudkan dan ternyata alhamdulillah berhasil," katanya.
Rinaldi memberikan tips kepada santri Gen Z untuk mewujudkan cita-citanya. "Kuncinya jangan batasi diri kita," ucapnya.
Dengan memahami perubahan pola pikir Gen Z dalam memilih pesantren, diharapkan lembaga pendidikan Islam tradisional ini dapat terus beradaptasi dan relevan dengan tuntutan zaman, sambil tetap mempertahankan nilai-nilai luhurnya.
Artikel Terkait
Kreator Konten Prank Jadi Debt Collector Pinjol Ilegal, Tawarkan Bunga 50 Persen
Kuasa Hukum Inara Rusli Akui Ada Rekaman CCTV, Tapi Bantah Isinya Perzinaan
Hotel di Rest Area Trans Jawa Siap Layani Pemudik yang Butuh Istirahat
Warga Aceh Tamiang Jaga Imunitas di Ramadhan Pascabencana