Nikotin Tak Hanya Rusak Paru, tapi Juga Bisa Turunkan Gairah Seksual

- Senin, 06 Juli 2026 | 11:30 WIB
Nikotin Tak Hanya Rusak Paru, tapi Juga Bisa Turunkan Gairah Seksual

Nikotin yang terkandung dalam rokok dan rokok elektronik ternyata tidak hanya memicu kecanduan dan merusak paru-paru. Zat adiktif ini juga dapat mengganggu fungsi seksual, baik pada pria maupun perempuan.

Berdasarkan laporan Healthline, nikotin memengaruhi gairah seksual secara tidak langsung melalui dampaknya terhadap aliran darah, keseimbangan hormon, dan fungsi saraf. Efek yang dirasakan setiap orang pun bisa berbeda-beda.

Salah satu mekanisme utama adalah penyempitan pembuluh darah akibat nikotin. Kondisi ini membuat aliran darah ke organ reproduksi berkurang. Pada pria, hal itu meningkatkan risiko disfungsi ereksi. Sementara pada perempuan, sensitivitas organ intim menurun dan lubrikasi alami saat berhubungan seksual berkurang.

Nikotin juga mengganggu keseimbangan hormon reproduksi. Sejumlah penelitian menunjukkan kebiasaan merokok berkaitan dengan perubahan kadar hormon yang dapat menekan libido.

Meski demikian, ada sebagian orang yang merasa merokok justru membantu mengurangi stres sehingga gairah seksual meningkat. Namun, efek ini hanya sementara. Sebab, yang terjadi sebenarnya adalah meredanya gejala putus nikotin, bukan peningkatan libido yang sesungguhnya.

Dalam jangka panjang, merokok justru meningkatkan risiko gangguan fungsi seksual. Kerusakan pembuluh darah dan menurunnya kemampuan tubuh mengalirkan darah ke organ reproduksi menjadi penyebab utamanya.

Sebaliknya, berhenti merokok dapat memperbaiki fungsi pembuluh darah secara bertahap. Banyak orang mengalami peningkatan sirkulasi darah dan kesehatan secara keseluruhan setelah berhenti, yang pada akhirnya berdampak positif pada fungsi seksual.

Proses pemulihan setiap orang berbeda, tergantung usia, kondisi kesehatan, dan lamanya kebiasaan merokok. Jika penurunan gairah atau gangguan fungsi seksual berlangsung lama, sebaiknya segera konsultasi ke tenaga kesehatan. Pasalnya, penyebabnya tidak selalu nikotin, tetapi juga bisa karena penyakit tertentu, efek obat-obatan, atau kondisi psikologis.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags