Dari Cita-cita Desainer ke Image Consultant: Ruthie Pasaribu Temukan Panggilan Sejati

- Selasa, 30 Juni 2026 | 12:06 WIB
Dari Cita-cita Desainer ke Image Consultant: Ruthie Pasaribu Temukan Panggilan Sejati

Ruthie Pasaribu pernah bercita-cita menjadi fashion designer saat remaja. Ketertarikannya pada dunia fashion membawanya menempuh pendidikan Fashion Design & Pattern Making di ESMOD Jakarta. Namun, semakin dalam ia belajar, ia justru menyadari bahwa dirinya tidak menikmati proses mendesain pakaian. Ada sesuatu yang kurang sesuai, dan kesadaran itu datang ketika ia mulai memahami apa yang benar-benar membuatnya bersemangat.

“Saat itu aku merasa seperti terkhianati oleh cita-citaku sendiri. Cuma ini bukan soal salah jurusan, tapi cita-cita yang aku perjuangkan ternyata nggak sesuai dengan diriku. And it’s okay,” kata Ruthie kepada kumparanWOMAN. Kebingungan sempat melanda: ia mencintai fashion, tetapi tidak ingin menjadi desainer maupun memiliki brand sendiri.

Di tengah kebingungan itu, Ruthie mengambil waktu untuk merenung. Suatu hari, ia membentangkan kertas pola besar di lantai dan menuliskan berbagai hal tentang dirinya hal yang disukai, tidak disukai, kemampuan, hingga aktivitas yang membuatnya bersemangat. Dari proses refleksi itu, ia menemukan benang merah: ia menyukai fashion karena senang melihat orang lain tampil lebih menarik dan percaya diri. Ia juga menikmati proses berbelanja, mencari barang yang tepat, dan membantu orang lain menemukan pakaian yang sesuai. Bahkan, ia sering lebih senang membelanjakan orang lain daripada dirinya sendiri.

Temuan itu mengubah cara pandangnya terhadap industri fashion. Menurut Ruthie, banyak orang menyukai fashion tetapi belum benar-benar memahami dirinya sendiri, sementara brand terus menghadirkan tren baru yang belum tentu cocok untuk semua orang. Dari situlah ide menjadi image consultant mulai muncul.

Melihat Celah yang Belum Banyak Dilirik

Ruthie menyadari bahwa setiap orang memiliki kebutuhan berbeda dalam berpakaian. Bentuk tubuh, profesi, aktivitas sehari-hari, hingga tujuan hidup memengaruhi cara membangun citra diri. Fashion tidak bisa diperlakukan seragam. Dua orang dengan tinggi dan berat badan sama belum tentu cocok dengan model pakaian yang sama; ada faktor lain seperti proporsi tubuh dan aktivitas sehari-hari. Profesi juga menjadi pertimbangan penting seseorang di kantor hukum tentu berbeda dengan pekerja lapangan atau pengguna transportasi umum. Menurut Ruthie, memahami hal-hal ini jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti tren viral.

Membangun DARE Image Consultant dari Nol

Berangkat dari pemikiran itu, Ruthie bersama sahabatnya, Susan, mendirikan DARE Image Consultant pada 2007. Namun, membangun bisnis image consulting saat itu bukan perkara mudah. Tantangannya bukan hanya mencari klien, tetapi juga memperkenalkan profesi image consultant kepada masyarakat. Banyak yang mengira pekerjaan mereka hanya memilihkan pakaian atau menemani klien berbelanja. Padahal, layanan yang diberikan jauh lebih luas: personal styling, closet edit, personal color analysis, hingga membantu membangun citra diri sesuai profesi dan tujuan.

Dalam prosesnya, Ruthie biasanya memulai dengan sesi self-assessment untuk mengenal klien lebih dalam. Ia ingin memahami siapa klien, kesehariannya, dan citra yang ingin dibangun. Setelah itu, ia membantu klien mengenali karakteristik fisik bentuk tubuh, warna kulit, hingga warna rambut. Salah satu layanan yang sering dilakukan adalah closet edit, di mana Ruthie datang langsung ke rumah klien untuk melihat isi lemari mereka.

“Nah, dari situ baru kita ke rumah klien, kita bongkar rumahnya, closet edit, udah punya atau nggak punya, atau apa yang udah benar atau nggak, nanti kita pisahkan. Nah, dari kita closet edit, kita punya personal punya shopping list, apa-apa aja yang harus dibeli. Jadi kita belanja bareng, kita belanja hanya yang kita perlu untuk complete the capsule wardrobe sama isi lemarinya,” jelasnya. Tujuan akhirnya bukan membuat klien memiliki lebih banyak pakaian, melainkan membantu mereka memiliki lemari yang lebih efektif dan sesuai kebutuhan.

Menjalani Dua Karier Sekaligus

Meski DARE Image Consultant sudah berdiri sejak 2007, selama bertahun-tahun Ruthie masih menjalani pekerjaan penuh waktu di berbagai sektor industri fashion retail, event organizer, hingga perusahaan yang berkaitan dengan fashion dan gaya hidup. Konsekuensinya, DARE hanya bisa dijalankan di sela-sela kesibukan, sebagian besar klien dilayani saat akhir pekan atau ketika ia mengambil cuti.

“Dulu aku selalu nunggu weekend atau ambil jatah cuti demi klien. Aku sadar banyak peluang yang lewat karena tenagaku terbagi dua. Ada rasa nggak tenang kalau nggak beneran fokus,” katanya. Semakin lama, Ruthie menyadari banyak kesempatan terlewat karena ia tidak bisa memberikan perhatian penuh pada bisnis yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun.

Akhirnya, Ruthie Berani Memilih Jalan yang Diyakini

Pada 2021, Ruthie mulai mempertanyakan satu hal: mengapa ia tidak pernah benar-benar fokus pada bisnis yang selama ini ia yakini? Setelah berdiskusi dengan orang-orang terdekat, ia mengambil keputusan besar untuk resign dari pekerjaan kantoran dan fokus menjalankan DARE Image Consultant secara penuh waktu. Keputusan itu tidak mudah. Ada rasa takut akan ketidakpastian. Namun, Ruthie merasa sudah saatnya memberikan ruang lebih besar untuk bisnis yang terus ia perjuangkan. Ia pun melayangkan surat pengunduran diri dan mendapat masa 3 month notice.

Di bulan pertama masa notice, rasa cemas masih sering datang. Ia mengaku berkali-kali mempertanyakan keputusannya karena harus meninggalkan kenyamanan gaji tetap. “Ini gue bener nggak, sih, bakalan resign?” ujarnya. Memasuki bulan kedua, kekhawatiran perlahan mereda. Ia mulai menyusun strategi dan menuangkan ide untuk mengembangkan DARE. Hingga di bulan terakhir, rasa takut berubah menjadi antusiasme. Berbekal dukungan keluarga, partner, teman, hingga atasannya di pekerjaan sebelumnya, Ruthie merasa semakin mantap. “Finally, aku beneran bisa punya waktu buat DARE Image,” katanya.

Ketika Pekerjaan Ruthie Tak Hanya Styling Pakaian, tapi Mengubah Hidup Seseorang

Bagi Ruthie, pekerjaannya sebagai image consultant bukan hanya membuat seseorang tampil lebih menarik. Ia percaya, ketika seseorang mulai mengenal dirinya dan nyaman dengan penampilannya, perubahan itu berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Hal itu ia temukan dari para kliennya. Salah satunya adalah seorang perempuan yang selama 12 tahun berjuang memiliki anak. Tak lama setelah menjadi ibu, klien tersebut kehilangan ibunya. Perubahan fisik dan peran baru membuatnya merasa kehilangan jati diri. Setelah menjalani proses styling bersama DARE, klien itu mengaku kembali bersemangat menjalani hidup untuk pertama kalinya, ia bisa melihat dirinya tampil menarik dan percaya diri dengan tubuh yang dimilikinya.

Perubahan serupa juga terjadi pada klien lain. Ada yang mengaku hubungan rumah tangganya menjadi lebih harmonis, ada pula yang mengalami peningkatan performa di tempat kerja setelah tampil lebih representatif. Klien tersebut bercerita bahwa ia mulai lebih dihargai oleh tim atau klien setelah membangun personal image yang sesuai dengan profesinya. Dari situ, Ruthie semakin yakin bahwa pekerjaannya bukan sekadar mengubah cara berpakaian, tapi juga membantu orang menemukan versi terbaik dari dirinya sendiri.

“Aku selalu merasa amazed dengan perjalanan ini. Setiap kali melihat klien-klienku berubah, melihat mereka bertransformasi begitu besar dari yang awalnya tidak percaya diri menjadi lebih percaya diri, atau menjadi lebih bersemangat menjalani hari-harinya aku selalu berkata pada diri sendiri, untung waktu itu aku mendengarkan suara hati dan berani resign,” ujar Ruthie.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags