JAKARTA – Trauma. Kata itu yang paling tepat menggambarkan kondisi Clara Shinta pascakonflik rumah tangganya yang berlarut. Tekanan batinnya kian berat, terutama setelah muncul gugatan fantastis senilai Rp10,7 miliar dari pihak yang diduga orang ketiga. Bagi Clara, dampaknya jauh melampaui sekadar urusan di pengadilan.
Persoalan ini benar-benar menggerogoti kondisi psikologisnya. Yang paling menyakitkan, kepercayaan terhadap suaminya pun luluh. "Kalau trauma pastilah," ujarnya. "Hilangnya kepercayaan terhadap suami itu juga jadi alasan saya untuk berpisah. Karena dilanjutkan lagi juga saya sudah enggak percaya."
Clara melanjutkan dengan suara yang terdengar lelah, "Setiap kali dia mau pergi ke mana saya deg-degan, setiap kali masuk ya deg-degan aja. Jadi trauma lah pasti." Pernyataannya itu disampaikan di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Kamis lalu.
Di tengah segala tekanan itu, Clara tak tinggal diam. Dia berupaya menjalani proses hukum yang ada. Bersama kuasa hukumnya, Bang Sunan, somasi dari pihak Tri Indah sudah dijawab. "Alhamdulillah... Sudah ada jawaban untuk ke pihak Indah," katanya. Namun begitu, untuk somasi balik, masih akan diproses.
Clara mengaku dapat pemahaman baru soal tahapan hukum. Rupanya, menjawab somasi dan menyomasi balik adalah dua hal berbeda. "Jadi kita jawab dulu, baru nanti ada langkah untuk mensomasi," jelasnya.
Nah, terkait rencana somasi balik itu, Clara menegaskan tujuannya untuk membantah berbagai tudingan. Dia juga merasa mendapat angin segar karena sejumlah praktisi hukum ternyata mendukung tindakan yang pernah dia lakukan di media sosial.
"Saya tidak mau membenarkan diri saya meskipun orang bilang saya korban, enggak seperti itu juga," ucap Clara. "Saya itu ada kesalahan mungkin mem-posting. Tapi ternyata hukum ini juga banyak lawyer-lawyer yang sedang mendukung saya. Mereka bilang, hukum tidak se-strict itu. Mereka bisa memandang perbuatan saya ini karena ada tindakan kejahatan sebelumnya loh."
Meski gugatan yang dihadapinya bernilai miliaran, Clara bersikukuh tidak mencari keuntungan materi. Fokusnya cuma satu: keadilan dan ketenangan hidup. "Saya nuntut yang sewajarnya aja, dengan posisi saya. Saya merasa dirugikan," tegasnya.
Dia pun menambahkan dengan nada lirih, "Saya tidak mau take benefit mencari keuntungan, saya enggak perlu itu. Sebenarnya saya cuma butuh keluarga saya utuh aja sih."
Peristiwa ini jelas meninggalkan luka yang dalam. Trauma yang menggunung itu bukan cuma beban psikis, tapi juga alasan kuat yang mendorongnya untuk mempertimbangkan mengakhiri ikatan rumah tangganya. Baginya, yang tersisa kini adalah perjuangan untuk pulih dan memperoleh ketenangan yang telah hilang.
Artikel Terkait
Syifa Hadju Ungkap Alasan Mantap Menikah dengan El Rumi
Menkes Budi Gunadi Bagikan Tips Alami Kendalikan Kolesterol dengan Cuka Apel
Pemeriksaan Inarasati di Polda Metro Jaya Ditunda Lagi
Pengisi Suara Giant Doraemon dan Plankton SpongeBob, Salman Borneo, Meninggal Dunia