Proses pengobatannya sendiri disebut relatif sederhana. Dengan terapi rutin, seorang pasien umumnya bisa menyelesaikan pengobatan dalam kurun waktu sekitar enam bulan. Asal, ya, disiplin dan tuntas.
Di lapangan, upaya skrining juga diperkuat lewat program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Tujuannya jelas: menjaring kasus lebih awal, sebelum kondisinya bertambah parah.
“Strateginya jelas, temukan sebanyak-banyaknya, obati sampai selesai, dan berikan pencegahan kepada kontak erat pasien. Dengan cara ini penularan bisa dihentikan,” ujar Menkes menegaskan.
Perhatian khusus juga diberikan untuk wilayah Indonesia Timur. Di sana, Kemenkes mendorong pemeriksaan tambahan, termasuk pemeriksaan genetik, untuk mendeteksi kemungkinan resistensi obat. Langkah ini penting agar terapi yang diberikan benar-benar tepat sasaran.
Momentum Hari Kusta Sedunia pun dianggap sebagai kesempatan emas untuk menggalang kembali semangat bersama. Plt Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, dr Andi Saguni, menyoroti hal ini.
“Peringatan Hari Kusta Sedunia merupakan momentum global untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, memperkuat komitmen pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan, serta menghapus stigma dan diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta,” ujar dr Andi.
Pada akhirnya, ajakan Kemenkes terbuka untuk semua. Masyarakat diminta untuk tidak ragu memeriksakan diri jika ada gejala, sekaligus berperan aktif menghilangkan stigma. Dukungan sosial ini diharapkan bisa membuat pasien datang lebih cepat, diobati dengan tepat, dan sembuh sepenuhnya.
Perlahan tapi pasti, eliminasi kusta bukan lagi sekadar wacana. Tapi sebuah target yang sedang dikejar dengan strategi yang, setidaknya di atas kertas, sudah cukup jelas.
Artikel Terkait
Epidemiolog Ingatkan Risiko Ciuman Bayi Saat Lebaran
Autumn Durald Arkapaw Jadi Perempuan Pertama Peraih Oscar Sinematografi Terbaik
Artis Kenakan Pin Merah Serukan Gencatan Senjata di Karpet Merah Oscar 2026
Lamaran Dipaksakan, Gadis 22 Tahun Baru Tersenyum Saat Diberi Skincare Mewah