Belum lagi soal serat. Brokoli, kubis, kembang kol semuanya kaya serat. Peran serat untuk pencernaan sudah jelas: menjaga segala sesuatu bergerak lancar di usus, sehingga sisa makanan tidak berlama-lama mengendap di sana. Kombinasi antara sulforaphane dan serat inilah yang diduga jadi senjata ampuh.
Yang menarik, korelasi antara konsumsi rutin sayuran ini dengan penurunan risiko kanker terlihat cukup kuat. Bahkan lebih kuat dibandingkan jika hanya makan sayuran hijau biasa tanpa memerhatikan jenisnya. Jadi, memang ada sesuatu yang spesial dari kelompok cruciferous ini.
Antioksidan dan fitonutrien yang tinggi di dalamnya memberi perlindungan ekstra. Tapi manfaatnya nggak akan maksimal kalau cuma dimakan sekali-sekali. Kuncinya adalah rutin.
Nah, soal rutin ini, banyak orang mengeluh bosan. Padahal, olahnya bisa beragam banget. Brokoli dan kembang kol bisa ditumis cepat atau jadi campuran sup gurih. Kale bisa dijadikan keripik renyah sebagai pengganti camilan kurang sehat. Kubis atau pokchoy juga mudah diselipkan ke dalam mi, nasi goreng, atau cukup dikukus sebentar.
Intinya, dengan sedikit kreativitas, sayuran ini bisa hadir di meja makan tanpa rasa jenuh. Di sisi lain, manfaatnya pun multifungsi. Selain berpotensi menjaga usus, sayuran ini juga membantu melawan peradangan dan menjaga metabolisme tubuh. Jadi, tunggu apa lagi? Mungkin sudah waktunya memberi porsi lebih untuk si hijau yang satu ini di piring kita.
Artikel Terkait
Ahli Sarankan Waktu Ideal Minum Kopi Saat Puasa Ramadan
Wamenparekraf: Konsep Bioskop Negara Sinewara Masih Digodok
Biji Labu, Sumber Zinc untuk Kesehatan Prostat dan Vitalitas Pria
Dua Rukun Pokok yang Menentukan Keabsahan Puasa Ramadhan