Setahun Tak Kunjung Hamil, Pakar Ungkap Pria Lebih Sering Jadi Penyebab

- Senin, 19 Januari 2026 | 15:30 WIB
Setahun Tak Kunjung Hamil, Pakar Ungkap Pria Lebih Sering Jadi Penyebab

Sudah setahun pernikahan berjalan. Hubungan intim pun rutin dilakukan, tapi tanda-tanda kehamilan tak kunjung muncul. Situasi seperti ini, jujur saja, sering bikin pasangan suami istri was-was. Tak jarang, saling menyalahkan pun terjadi, berujung pada tekanan psikologis yang berat.

Di sisi lain, masih banyak yang mengira masalah ketidaksuburan atau infertilitas selalu berakar dari pihak perempuan. Anggapan itu ternyata keliru.

Menurut Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And., Subsp.SAAM, seorang dokter spesialis andrologi, justru pria lebih sering menjadi penyebabnya. "Nah sekarang dari data itu, penyebab ketidaksuburan itu ternyata lebih banyak pada pria," ujarnya.

Pernyataan itu disampaikan Prof. Wimpie dalam acara Grand Opening Steros Clinic di Jakarta Selatan, Kamis lalu.

Setahun Menikah Tak Hamil-Hamil? Bisa Jadi Sinyal Infertilitas Pria

Lalu, kapan sih sebenarnya pasangan bisa dikatakan mengalami infertilitas? Prof. Wimpie menjelaskan, patokannya adalah jika sudah menikah setahun, berhubungan intim teratur minimal dua sampai tiga kali seminggu tapi kehamilan tak juga datang. Nah, saat itulah sebaiknya Anda mulai mempertimbangkan untuk cek ke dokter.

"Untuk tahunya ya harus periksa sperma. Pastikan spermanya normal atau tidak," tegasnya.

Pemeriksaan tentu tak cuma berhenti di situ. Evaluasi menyeluruh terhadap organ reproduksi pria juga perlu. Salah satu poin krusial yang kerap diabaikan adalah ukuran testis.

Testis yang kecil bisa jadi penanda ada yang tak beres dengan fungsi reproduksi, baik itu produksi sperma maupun hormon. "Salah satu yang perlu diperiksa tentu kemudian hormon. Sebelumnya ukuran testisnya normal nggak dia? Jadi kalau ukurannya kecil ya kemungkinan besar nggak normal," imbuh Prof. Wimpie.

Namun begitu, ada kabar yang kurang baik. Jika testis sudah terlanjur mengecil dan terlambat ditangani, fungsi reproduksinya sulit dipulihkan. Berbeda dengan masalah pada perkembangan penis, yang menurut beliau masih bisa diatasi dengan terapi medis.

Ukuran penis masih mungkin diperbaiki, dan pria tetap bisa berhubungan seksual. Hanya saja, jangan berharap kesuburan akan otomatis kembali.

"Tapi kalau sudah terlambat mengecil (testis), ya nggak bisa lagi. Sudah mengecil ya mandul dia. Tapi kalau untuk perkembangan penisnya yang terganggu masih bisa diperbesar. Juga bisa melakukan hubungan seks walaupun pengobatannya seumur hidup, tapi tetap mandul," sambungnya.

Intinya, deteksi dini adalah kunci. Prof. Wimpie menekankan betapa pentingnya kesadaran pria untuk memeriksakan kesehatan reproduksinya. Dengan pemeriksaan tepat waktu dan penanganan sejak awal, setidaknya pasangan punya peluang lebih besar untuk memahami kondisinya. Dari situ, mereka bisa merencanakan langkah selanjutnya dengan lebih matang dan bijaksana.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar