Menguak Jerat Child Grooming: Mengapa Korban Sering Sulit Melawan?

- Jumat, 16 Januari 2026 | 18:48 WIB
Menguak Jerat Child Grooming: Mengapa Korban Sering Sulit Melawan?

Caranya? Pelaku biasanya membangun rasa nyaman dulu. Mereka menghujani perhatian, membangun kepercayaan, dan membuat si anak merasa dirinya spesial. Setelah itu, barulah eksploitasi itu dimulai. Korban yang masih belia terjebak dalam jaring yang sudah ditenun rapi.

Lalu, kenapa susah banget buat korban buat kabur atau nolak?

Psikolog anak dan remaja Anastasia Satriyo, M.Psi., punya penjelasan ilmiah yang masuk akal. Jawabannya ada di dalam otak remaja yang memang belum sepenuhnya matang.

Nah, di sisi lain, Cinta menambahkan dimensi psikologis lainnya. Manipulasi yang berulang bisa bikin korban mengalami confusion attachment. Intinya, korban jadi bingung sendiri. Di satu sisi, mereka merasa hubungannya dengan pelaku itu salah. Tapi di sisi lain, pelaku selalu tampak baik dan perhatian. Rasa bersalah pun ditanamkan pelaku, sehingga korban malah menyalahkan diri sendiri ketika menyadari ada yang tidak beres.

Jadi, simpulannya begini. Seorang korban child grooming yang masih anak-anak atau remaja sulit "melawan" bukan karena mereka lemah atau pasrah. Penyebabnya kompleks: bagian otak yang bertugas menilai risiko dan mengambil keputusan jangka panjang memang belum siap bekerja penuh. Ditambah lagi, ada kebingungan dan rasa bersalah yang sengaja diciptakan pelaku lewat manipulasi bertahap. Semuanya membuat korban terjebak dalam situasi yang sulit dilawan sendirian.


Halaman:

Komentar