Kisah Aurelie Moeremans yang berani menceritakan pengalamannya sebagai korban child grooming lewat memoar "Broken Strings" benar-benar menyita perhatian. Bukan cuma sekadar berita, tapi ini membuka mata banyak orang soal betapa liciknya manipulasi dan eksploitasi terhadap anak di bawah umur.
Dukungan untuk Aurelie pun berdatangan, dari warganet biasa hingga selebritas papan atas. Tapi, di tengah gelombang dukungan itu, ada juga suara-suara sumbang. Beberapa netizen malah melontarkan pertanyaan yang intinya menyalahkan sang korban. Miris, tapi nyata.
Pertanyaan klasik itu selalu muncul: "Kenapa nggak melawan?"
Buat yang bertanya begitu, jawabannya nggak sesimpel yang dibayangkan. Menurut para psikolog, child grooming itu sendiri adalah sebuah proses manipulasi psikologis yang dilakukan orang dewasa atau siapa pun yang punya kuasa terhadap anak di bawah umur. Tujuannya jelas: mengeksploitasi, terutama secara seksual.
Seperti dijelaskan psikolog klinis Cinta Retsa Ferdiana, M.Psi., ini bukan kejadian satu malam. Ini proses bertahap yang pelan-pelan menjerat korban.
Artikel Terkait
Andien Buka Suara: Sembilan Bulan Terjebak dalam Hubungan Penuh Manipulasi
Klip Bajakan Serbu Medsos, Produser Film Gigit Jari
METOO Hadirkan Pasta Gigi dengan Perisai HAP untuk Atasi Gigi Sensitif dan Berlubang
Gunung dalam Mimpi: Simbol Hambatan atau Panggilan Jiwa?