Anak Sering Sakit? Waspadai Ancaman Tersembunyi bagi Masa Depannya

- Selasa, 13 Januari 2026 | 11:54 WIB
Anak Sering Sakit? Waspadai Ancaman Tersembunyi bagi Masa Depannya

Setiap orang tua pasti punya harapan yang sama: melihat anaknya tumbuh sehat, cerdas, dan meraih kesuksesan. Tapi, pernahkah terpikir bahwa kebiasaan anak yang gampang sakit bisa jadi penghalang besar untuk semua impian itu? Ya, di balik demam atau batuk yang sering kambuh, ada ancaman tersembunyi bagi proses belajar dan perkembangan otak si kecil.

Hal ini diungkapkan oleh Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH. Beliau menjabat sebagai Medical and Scientific Affairs Director di Danone Specialized Nutrition Indonesia.

Menurutnya, dampak anak yang sering sakit ternyata jauh lebih dalam dari yang kita kira. Tak cuma soal fisik yang lemas, tapi juga memengaruhi perkembangan kognitif dan nilai-nilai di sekolah.

Anak Sering Sakit Bisa Pengaruhi Prestasi dan Masa Depannya

Bayangkan saja, kalau dalam sebulan anak bisa sakit dua sampai tiga kali. Aktivitas belajar pasti sering terputus. Akhirnya, stimulasi untuk otaknya jadi nggak optimal. Alhasil, prestasi akademik pun bisa ikut merosot.

“Sudah ada penelitian skala besar yang mengatakan bahwa ketika seorang anak punya kognitif yang baik, status gizinya baik, dan yang paling penting adalah daya tahan tubuh yang baik atau status imunitas yang baik, maka 10 kali lebih besar mereka akan terhindar dari penyakit infeksi dan berulang,”

Ucap dr. Ray dalam sebuah talkshow di Jakarta Selatan, Kamis lalu.

Nah, persoalannya sering kali berawal dari hal yang mendasar. Anak yang mudah sakit biasanya bukan cuma punya masalah imun. Dalam banyak kasus, ini berkaitan erat dengan kekurangan gizi. Dan efeknya, sungguh panjang. Bisa terbawa sampai mereka dewasa dan memengaruhi produktivitas kerja nanti.

Di sisi lain, penelitian lain juga mengungkap fakta menarik. Kombinasi nutrisi yang baik, kognitif yang tajam, dan imunitas kuat meningkatkan peluang anak hingga 4,6 kali lebih besar untuk menamatkan pendidikan di jenjang yang tinggi. Coba lihat realitanya: jumlah sarjana di Indonesia masih sekitar 20–30 persen, sementara lulusan SD masih dominan.

“Berarti mungkin ada hubungannya dengan aspek kognitif, aspek imunitas, dan aspek nutrisi,” imbuh dr. Ray.

Dan ini yang bikin kita harus benar-benar memperhatikan: dampaknya berlanjut sampai ke masa depan si anak. Mereka yang tumbuh dengan kondisi optimal otak berkembang baik, gizi terpenuhi, dan jarang sakit punya peluang 21 persen lebih tinggi untuk mendapatkan penghasilan yang mapan saat dewasa.

“Kalau udah kayak gini, dasarnya adalah di keluarga,” pungkasnya.

Jadi, intinya jelas. Fondasi kesehatan, gizi, dan daya tahan tubuh yang dibangun sejak dini di rumah, bukan cuma untuk hari ini. Itu adalah investasi nyata untuk kesuksesan panjang anak-anak kita nanti.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar