Konsistensi juga jadi masalah. Balas pesan bisa lama sekali, rencana sering berubah-ubah mendadak, dan ia hampir tak pernah melibatkanmu dalam rencananya untuk waktu yang akan datang. Pola-pola ini, sadar atau tidak, adalah cara mereka menjaga jarak aman agar tidak terlalu terikat.
Akar Masalahnya dari Mana?
Biasanya, semua ini berakar dari pengalaman lama. Hubungan yang berakhir pedih, pengkhianatan, atau kehilangan emosional bisa membentuk tembok pertahanan yang tebal. Pola asuh dan dinamika keluarga masa kecil juga punya peran besar dalam membentuk gaya seseorang dalam menjalin keterikatan.
Ambil contoh orang dengan gaya kelekatan menghindar (avoidant attachment). Mereka cenderung menjaga jarak emosional saat merasa terlalu dekat. Bagi mereka, komitmen sering terasa seperti ancaman terhadap kebebasan dan kendali atas diri sendiri. Yang rumit, ketakutan ini sering bekerja dalam alam bawah sadar. Seseorang bisa saja menjauh, tanpa benar-benar paham apa penyebab pastinya.
Lalu, Bagaimana Mengatasinya?
Mengatasi ini semua bukan soal memaksakan perubahan drastis dalam semalam. Langkah awal yang paling penting adalah mengenali dan, yang lebih sulit, menerima keberadaan ketakutan itu tanpa langsung menghakimi diri sendiri. Berkonsultasi dengan profesional seperti psikolog bisa membuka ruang aman untuk menelusuri akar emosi dan pola hubungan yang terus berulang.
Komunikasi yang jujur dengan pasangan juga krusial. Selain itu, coba bangun komitmen-komitmen kecil dulu. Buat rencana sederhana untuk minggu depan, lalu tepati. Latihan kecil seperti ini bisa membantu membangun rasa aman, setahap demi setahap.
Artikel Terkait
Mimpi Merayakan Valentine Sendirian: Bukan Pertanda Buruk, Tapi Pesan dari Bawah Sadar
5 Tanaman Pembawa Hoki untuk Sambut Imlek 2026
Inara Rusli Ungkap Harmoni Keluarga dan Harapan Tersisa di Balik Pernikahan Sirinya
RCTI Luncurkan Microdrama, Cerita Singkat untuk Temani Sore Penonton