Perempuan yang Berani: Hidup Tenang sebagai Bentuk Perlawanan

- Rabu, 07 Januari 2026 | 06:06 WIB
Perempuan yang Berani: Hidup Tenang sebagai Bentuk Perlawanan

Menikmati secangkir kopi hangat di pagi yang sepi. Ngobrol santai dan jujur dengan sahabat. Atau sekadar meluangkan waktu untuk membaca buku favorit sampai halaman terakhir. Hal-hal kecil semacam ini sering diabaikan, padahal inilah yang sebenarnya merawat jiwa. Hidup sederhana bukan berarti menyerah pada mimpi. Justru sebaliknya. Ini adalah cara kita memberi ruang untuk bernapas, untuk benar-benar mendengar apa kata hati.

Di sisi lain, pilihan ini juga sebuah perlawanan halus. Kita hidup di budaya serba cepat, di mana semua orang berlomba memamerkan kesuksesannya. Nah, memilih untuk tenang dan sederhana itu seperti menyatakan, "Tidak, terima kasih. Kebahagiaan saya tidak perlu validasi dari keramaian." Ini tentang mengambil alih kendali. Perempuan berhak menentukan ritme hidupnya sendiri, tanpa terus-terusan mengejar ekspektasi yang ditetapkan orang lain.

Tentu saja, jalannya tidak mulus. Pertanyaan-pertanyaan yang itu-itu lagi selalu muncul. "Kapan nikah?" atau "Kenapa nggak coba lamar posisi yang lebih tinggi?" Komentar sinis itu melelahkan. Tapi, kebahagiaan sejati kan bukan soal memenuhi standar orang banyak. Ini soal menemukan kedamaian dalam diri sendiri. Di tengah dunia yang riuh, hidup dengan tenang adalah cara kita menjaga kewarasan.

Pada akhirnya, setiap perempuan punya jalannya masing-masing. Ada yang bersinar dengan pencapaian karier yang gemilang, ada yang merasa paling utuh justru dalam kesederhanaan. Satu hal yang pasti: tidak ada hierarki di sini. Kebahagiaan bukanlah perlombaan yang pemenangnya dapat piala. Ia adalah perjalanan yang paling personal, paling jujur, yang kita lakukan bersama diri sendiri.

Editor: Raditya Aulia


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar