"Aku sayang Mama, Papa."
Empat kata itu. Sederhana, kan? Tapi bagi banyak anak bahkan yang sudah dewasa sekalipun mengucapkannya terasa seperti mendaki tebing terjal. Bukan karena cinta itu tak ada. Rasanya ada. Hanya saja, ada semacam tembok kaca yang menghalangi perasaan itu untuk keluar menjadi kata-kata.
Kita hidup di zaman di mana unggahan keluarga bahagia dan caption manis bertebaran di media sosial. Namun, di balik layar yang terang itu, tak sedikit anak yang berjuang dalam kesunyian. Mereka merasakan hangatnya kasih orang tua, tapi bingung bagaimana membalasnya dengan cara yang sama. Fenomena ini, percayalah, jauh lebih umum dari yang kita duga. Memahaminya adalah kunci pertama untuk membangun jembatan emosi yang lebih kokoh.
Akar dari Kesunyian: Kenapa Susah Sekali Bilang "Sayang"?
Pola Asuh Minim Ucapan
Dalam banyak keluarga, terutama yang bernuansa tradisional, cinta lebih sering diwujudkan dalam tindakan. Ibu yang menyiapkan sarapan sebelum matahari terbit, ayah yang pulang larut dengan baju penuh peluh. Kasih sayang diukur dari kerja keras dan pengorbanan diam-diam. Anak yang tumbuh di lingkungan seperti ini mungkin tak pernah benar-benar belajar cara mengungkapkan perasaan dengan lantang. Mereka tahu dicintai, tapi tak punya kosakata untuk membalasnya.
Luka yang Belum Sembuh
Di sisi lain, ada juga yang punya sejarah kelam. Pengalaman ditolak secara emosional, konflik yang tak terselesaikan, atau kata-kata pedas di masa kecil bisa meninggalkan bekas. Trauma semacam itu membangun benteng pertahanan. Meski hubungan sudah membaik, rasa was-was dan takut terluka lagi seringkali masih tersisa, membuat mereka enggan membuka diri sepenuhnya.
Karakter dan Kondisi Psikologis
Kepribadian juga berperan besar. Anak yang introvert biasanya lebih nyaman menyimpan perasaannya sendiri. Ungkapan verbal yang terbuka justru membuat mereka canggung. Lebih jauh, ada kondisi bernama alexithymia kesulitan untuk mengenali dan memberi nama pada emosi yang dirasakan sendiri. Bagi mereka, perasaan itu ada, tapi bentuknya kabur dan sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Beda Generasi, Beda "Bahasa" Cinta
Gary Chapman pernah menulis soal "Bahasa Cinta". Intinya, tiap orang punya cara unik memberi dan menerima kasih sayang: lewat kata-kata pujian, waktu berkualitas, hadiah, tindakan melayani, atau sentuhan fisik. Nah, masalah muncul ketika orang tua dan anak bicara dengan "bahasa" yang berbeda. Orang tua menunjukkan cinta dengan memasakkan makanan favorit, sementara anak merindukan pelukan atau ucapan sayang. Kedua belah pihak saling memberi, tapi merasa tak cukup diterima.
Budaya Malu dan Gengsi
Dalam kultur kita, terutama untuk anak laki-laki, ada ekspektasi untuk tampil kuat dan tidak cengeng. Mengekspresikan emosi secara verbal kerap dianggap "lebay" atau tanda kelemahan. Rasa malu dan gengsi inilah yang kemudian membungkam mulut. Ungkapan sayang yang tiba-tiba terasa aneh dan tidak wajar, apalagi jika keluarga memang tak terbiasa.
Dampak Diam yang Berkepanjangan
Di Pihak Anak
Rasa bersalah itu nyata. Terutama saat melihat orang tua menua atau sakit, beban karena tak bisa mengungkapkan rasa sayang bisa sangat berat. Tak jarang, penyesalan itu baru datang ketika kesempatan sudah tertutup untuk selamanya. Pola ini juga bisa terbawa ke hubungan asmara atau pertemanan, membuat mereka kesulitan membangun keintiman emosional.
Di Pihak Orang Tua
Orang tua bisa salah tafsir. Mereka mungkin merasa pengorbanan puluhan tahun tak dihargai, atau mengira anak mereka dingin dan tak peduli. Lambat laun, jarak yang tak terlihat itu bisa melebar, menciptakan kesenjangan yang sulit dijembatani.
Memulai, Sedikit Demi Sedikit
1. Awali dengan yang Ringan
Tak perlu langsung berteriak "Aku sayang kalian!". Coba kalimat yang lebih mudah, seperti: "Makasih ya, Ma, udah masakin ini," atau "Aku bersyukur punya Papa seperti Papa." Ucapan terima kasih dan apresiasi adalah pintu masuk yang baik.
2. Manfaatkan Cara Non-Verbal
Kata-kata bukan segalanya. Tindakan sering lebih berbicara. Pelukan singkat, membantu membereskan meja tanpa diminta, atau sekadar menelepon untuk menanyakan kabar itu semua adalah bentuk cinta yang tak kalah kuat.
3. Coba Lewat Tulisan
Bagi sebagian orang, menulis jauh lebih mudah. Coba kirim pesan WhatsApp yang agak panjang di malam hari, atau tinggalkan catatan kecil di kulkas. Menulis memberi kita ruang untuk merangkai kata tanpa tekanan tatap muka.
4. Pilih Momen yang Pas
Jangan menunggu situasi yang dramatis. Justru momen biasa sering paling berkesan: saat naik mobil bersama, jeda iklan di televisi, atau sebelum mengucapkan selamat tidur.
5. Jangan Sungkan Minta Bantuan Profesional
Kalau akar masalahnya adalah trauma atau konflik berat, terapi keluarga bisa jadi solusi. Psikolog dapat memandu komunikasi yang lebih sehat dan aman bagi semua pihak.
6. Bersikap Lembut pada Diri Sendiri
Ini penting. Jangan menghukum diri karena merasa "kaku". Mengekspresikan emosi adalah keterampilan, dan seperti semua keterampilan, butuh latihan. Setiap langkah kecil patut dirayakan.
Untuk Orang Tua: Membaca yang Tak Terucap
1. Hindari Memaksa
Memaksa anak mengucapkan sayang justru bisa membuat mereka semakin menjauh. Beri mereka waktu dan ruang.
2. Baca Isyarat Lainnya
Perhatikan caranya menunjukkan peduli: apakah ia rajin menelpon? Ingat tanggal penting? Mendengarkan curhat Anda dengan serius? Itu semua adalah bahasa cinta versinya.
3. Buka Percakapan dengan Cara Lembut
Coba ucapkan, "Bunda tahu kamu sayang sama kita, kok. Terlihat dari caramu..." Pernyataan seperti ini melegakan dan mengurangi tekanan.
4. Introspeksi Diri
Sudahkah kita menciptakan rumah yang aman bagi emosi? Apakah kita sendiri rutin memberi contoh mengungkapkan sayang? Perubahan seringkali dimulai dari kita.
Sebuah Kisah: Ketika Akhirnya Terucap
Rina, 28 tahun, punya cerita.
"Dua puluh delapan tahun hidup saya, belum pernah sekalipun saya bilang 'sayang' langsung ke orang tua. Kata-kata itu macet di tenggorokan. Keluarga kami memang bukan tipe yang verbal."
"Semuanya berubah saat Papa kena serangan jantung. Melihat beliau terbaring lemah, saya seperti ditampar. Dengan tangan gemetar, saya pegang tangan Papa dan bisikkan, 'Pa, aku sayang Papa.'"
"Dia menangis. Saya juga. Sejak hari itu, saya bertekad untuk tidak menahan-nahan lagi. Sekarang, setiap telepon pasti saya tutup dengan 'Aku sayang kalian.' Awalnya canggung, sekarang jadi kebiasaan. Dan hati saya terasa lebih enteng."
Penutup: Hadiah yang Tak Ternilai
Tidak ada kata "terlambat" untuk mulai. Setiap hari adalah kesempatan baru. Bagi Anda yang masih merasa berat, ingatlah: orang tua tak akan selamanya ada di samping kita. Kata-kata yang tertahan hari ini bisa berubah jadi penyesalan panjang esok hari.
Mulailah dari langkah terkecil yang Anda mampu. Hari ini juga. Dengan cara Anda sendiri.
Karena pada akhirnya, cinta yang terucap dengan cara apa pun adalah hadiah terindah untuk orang yang telah memberi kita segalanya.
Artikel Terkait
Rina Nose Jalani Operasi Hidung oleh Dokter Tompi di Awal Ramadhan 2026
Kuasa Hukum Ungkap Grup Gosip Karyawan Bahas Hubungan Inara Rusli dan Insanul Fahmi
Kurma untuk Buka Puasa: Anjuran Agama yang Didukung Bukti Medis
The Margo Hotel Hadirkan 1001 Flavors Ramadan Buffet Bertema Timur Tengah