Mengapa Aku Sayang Mama, Papa Terasa Seperti Mendaki Tebing?

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 05:06 WIB
Mengapa Aku Sayang Mama, Papa Terasa Seperti Mendaki Tebing?

"Aku sayang Mama, Papa."

Empat kata itu. Sederhana, kan? Tapi bagi banyak anak bahkan yang sudah dewasa sekalipun mengucapkannya terasa seperti mendaki tebing terjal. Bukan karena cinta itu tak ada. Rasanya ada. Hanya saja, ada semacam tembok kaca yang menghalangi perasaan itu untuk keluar menjadi kata-kata.

Kita hidup di zaman di mana unggahan keluarga bahagia dan caption manis bertebaran di media sosial. Namun, di balik layar yang terang itu, tak sedikit anak yang berjuang dalam kesunyian. Mereka merasakan hangatnya kasih orang tua, tapi bingung bagaimana membalasnya dengan cara yang sama. Fenomena ini, percayalah, jauh lebih umum dari yang kita duga. Memahaminya adalah kunci pertama untuk membangun jembatan emosi yang lebih kokoh.

Akar dari Kesunyian: Kenapa Susah Sekali Bilang "Sayang"?

Pola Asuh Minim Ucapan

Dalam banyak keluarga, terutama yang bernuansa tradisional, cinta lebih sering diwujudkan dalam tindakan. Ibu yang menyiapkan sarapan sebelum matahari terbit, ayah yang pulang larut dengan baju penuh peluh. Kasih sayang diukur dari kerja keras dan pengorbanan diam-diam. Anak yang tumbuh di lingkungan seperti ini mungkin tak pernah benar-benar belajar cara mengungkapkan perasaan dengan lantang. Mereka tahu dicintai, tapi tak punya kosakata untuk membalasnya.

Luka yang Belum Sembuh

Di sisi lain, ada juga yang punya sejarah kelam. Pengalaman ditolak secara emosional, konflik yang tak terselesaikan, atau kata-kata pedas di masa kecil bisa meninggalkan bekas. Trauma semacam itu membangun benteng pertahanan. Meski hubungan sudah membaik, rasa was-was dan takut terluka lagi seringkali masih tersisa, membuat mereka enggan membuka diri sepenuhnya.

Karakter dan Kondisi Psikologis

Kepribadian juga berperan besar. Anak yang introvert biasanya lebih nyaman menyimpan perasaannya sendiri. Ungkapan verbal yang terbuka justru membuat mereka canggung. Lebih jauh, ada kondisi bernama alexithymia kesulitan untuk mengenali dan memberi nama pada emosi yang dirasakan sendiri. Bagi mereka, perasaan itu ada, tapi bentuknya kabur dan sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Beda Generasi, Beda "Bahasa" Cinta

Gary Chapman pernah menulis soal "Bahasa Cinta". Intinya, tiap orang punya cara unik memberi dan menerima kasih sayang: lewat kata-kata pujian, waktu berkualitas, hadiah, tindakan melayani, atau sentuhan fisik. Nah, masalah muncul ketika orang tua dan anak bicara dengan "bahasa" yang berbeda. Orang tua menunjukkan cinta dengan memasakkan makanan favorit, sementara anak merindukan pelukan atau ucapan sayang. Kedua belah pihak saling memberi, tapi merasa tak cukup diterima.

Budaya Malu dan Gengsi

Dalam kultur kita, terutama untuk anak laki-laki, ada ekspektasi untuk tampil kuat dan tidak cengeng. Mengekspresikan emosi secara verbal kerap dianggap "lebay" atau tanda kelemahan. Rasa malu dan gengsi inilah yang kemudian membungkam mulut. Ungkapan sayang yang tiba-tiba terasa aneh dan tidak wajar, apalagi jika keluarga memang tak terbiasa.

Dampak Diam yang Berkepanjangan

Di Pihak Anak

Rasa bersalah itu nyata. Terutama saat melihat orang tua menua atau sakit, beban karena tak bisa mengungkapkan rasa sayang bisa sangat berat. Tak jarang, penyesalan itu baru datang ketika kesempatan sudah tertutup untuk selamanya. Pola ini juga bisa terbawa ke hubungan asmara atau pertemanan, membuat mereka kesulitan membangun keintiman emosional.

Di Pihak Orang Tua

Orang tua bisa salah tafsir. Mereka mungkin merasa pengorbanan puluhan tahun tak dihargai, atau mengira anak mereka dingin dan tak peduli. Lambat laun, jarak yang tak terlihat itu bisa melebar, menciptakan kesenjangan yang sulit dijembatani.

Memulai, Sedikit Demi Sedikit

1. Awali dengan yang Ringan

Tak perlu langsung berteriak "Aku sayang kalian!". Coba kalimat yang lebih mudah, seperti: "Makasih ya, Ma, udah masakin ini," atau "Aku bersyukur punya Papa seperti Papa." Ucapan terima kasih dan apresiasi adalah pintu masuk yang baik.

2. Manfaatkan Cara Non-Verbal

Kata-kata bukan segalanya. Tindakan sering lebih berbicara. Pelukan singkat, membantu membereskan meja tanpa diminta, atau sekadar menelepon untuk menanyakan kabar itu semua adalah bentuk cinta yang tak kalah kuat.

3. Coba Lewat Tulisan


Halaman:

Komentar