Di tengah kesibukan mengurus rumah tangga, momen menenun ibarat jeda yang disengaja. Tanpa disadari, aktivitas ini menjadi bentuk perawatan diri. Membangun kepercayaan diri sedikit demi sedikit. Bagi beberapa perempuan di sini, ini adalah satu-satunya waktu di mana mereka bisa fokus sepenuhnya pada diri sendiri, bukan pada peran sebagai ibu atau istri.
Suasana di ruang itu terasa akrab dan hangat. Ritme kayu dan benang menjadi latar yang konstan. Tak ada hirarki, tak ada tuntutan harus sempurna. Mereka duduk sejajar, berbagi, dan saling mendukung.
Solidaritas yang Terajut Bersama Benang
Memang, tradisi menenun mungkin sudah tidak populer di kalangan anak muda sekarang. Tapi para perempuan ini tetap bertahan. Namun begitu, bagi mereka, mempertahankan tenun bukan cuma urusan melestarikan sebuah produk kain belaka. Lebih dalam lagi, ini adalah cara mereka menjaga ikatan. Ruang tempat mereka saling memahami dan menguatkan dalam diam-diam.
“Kalau nggak ada tempat seperti ini, mungkin aku cuma di rumah terus. Di sini aku ngerasa punya teman,” kata Wati, sambil tangannya tetap lincah menggerakkan benang.
Jadi, di ruang sederhana itulah, tenun menjelma menjadi pengikat cerita. Benang-benang yang dirajut tak hanya membentuk pola kain yang indah, tetapi juga menyatukan fragmen-fragmen hidup para perempuan Magelang. Selama masih ada yang mau duduk berdampingan, berbagi cerita, dan menenun dengan perlahan, ruang aman itu akan terus hidup. Terus dirajut, dari kebersamaan dan ketulusan yang paling sederhana.
Artikel Terkait
Cara Cek Daya Tampung SNBP 2026: Portal SNPMB atau Langsung ke Situs Kampus?
Prilly Latuconsina Minta Maaf Usai Status Open to Work Picu Badai Kritik
Pandji Pragiwaksono Tegaskan Bakal Lanjutkan Stand Up Comedy, Meski Tanpa Mens Rea
Membaca Mimpi Shio: Pesan Batin Jelang Imlek