Produksi Emas Freeport 2025 Turun Drastis, Ini Penyebab dan Target Pemulihannya

- Rabu, 12 November 2025 | 14:00 WIB
Produksi Emas Freeport 2025 Turun Drastis, Ini Penyebab dan Target Pemulihannya

Proyeksi Produksi Emas PT Freeport Indonesia hingga 2025

PT Freeport Indonesia (PTFI) memperkirakan produksi emasnya akan mencapai maksimal sekitar 15 ton hingga akhir tahun 2025. Hal ini diungkapkan langsung oleh Wakil Presiden Direktur PTFI, Jenpino Ngabdi. Sebagai perbandingan, produksi emas PTFI dalam kondisi normal biasanya mencapai 50 hingga 60 ton per tahun.

Jenpino menjelaskan bahwa untuk tahun depan, pasokan dan produksi emas diperkirakan akan berkurang sekitar 30 persen dari angka normal. Pernyataan ini disampaikannya dalam acara Bullion Connect 2025 di The Gade Tower, Jakarta Pusat.

Penyebab Penurunan Produksi Emas Freeport

Penurunan produksi ini diduga kuat disebabkan oleh insiden luncuran material basah yang terjadi di Tambang Bawah Tanah Grasberg Block Cave pada 8 September lalu. Akibat insiden tersebut, PTFI menargetkan untuk bisa kembali ke tingkat produksi normal, yaitu 50-60 ton per tahun, pada tahun 2027.

Untuk sisa tahun 2025 ini, PTFI masih berada dalam fase awal pemulihan operasi penambangan emas. Hal ini menyebabkan kapasitas operasional perusahaan belum dapat berjalan secara penuh dan maksimal.

Pencapaian Produksi di Fasilitas Pemurnian Gresik

Di sisi lain, PTFI telah mencatatkan pencapaian produksi melalui fasilitas Precious Metal Refinery (PMR) yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur. Hingga Juli 2025, fasilitas ini telah berhasil memproduksi 11 ton emas batangan dan 6 ton perak batangan.

Fasilitas PMR di Gresik ini mulai memproduksi emas batangan sejak 30 Desember 2024, sedangkan produksi perak batangan dimulai pada 5 Juni 2025. Keberadaan PMR ini merupakan bagian dari proyek strategis nasional PTFI yang juga mencakup pembangunan smelter tembaga baru berkapasitas besar dan ekspansi kapasitas PT Smelting Gresik.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar