Dari sisi investasi, realisasi di sektor keramik pada kurun 2020-2024 telah mencapai Rp 20,3 triliun, yang menyerap lebih dari 10.000 tenaga kerja. Secara kumulatif, total investasi di industri keramik hingga saat ini telah menembus angka Rp 224 triliun dan menyerap sekitar 40.000 pekerja di berbagai rantai produksinya.
Tantangan Banjir Impor yang Mengancam
Meski memiliki prospek yang cerah, industri keramik domestik menghadapi tantangan serius. Sektor ini termasuk dalam daftar industri yang mengalami tekanan akibat membanjirnya produk impor, bersama dengan industri tekstil, alas kaki, elektronik, baja, dan kosmetik.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, menyatakan kekhawatiran akan dampak negatif dari lonjakan impor produk keramik jadi ke pasar dalam negeri. Kondisi ini berpotensi mengganggu kinerja dan daya saing industri lokal.
Febri menjelaskan bahwa banjir produk impor dengan harga yang lebih murah dapat menekan tingkat utilisasi pabrik dalam negeri. Perusahaan menjadi lebih berhat-hati dalam memutuskan tingkat produksinya karena harus mempertimbangkan kondisi pasar domestik yang telah dipenuhi produk impor.
“Ketika pasar domestik sudah banjir produk impor dengan harga murah, industri di dalam negeri akan berpikir ulang untuk memproduksi dalam jumlah besar,” tuturnya.
Artikel Terkait
Fed Pilih Tunggu dan Lihat Dampak Perang Iran Terhadap Inflasi
Harga Emas Menguat Dua Hari Berturut-turut, tapi Tertekan Ancaman Inflasi dan Suku Bunga
Wall Street Dibayangi Ketegangan Iran, Minyak Melonjak di Atas $115
Pemerintah Targetkan Groundbreaking Rusun Bantaran Rel Senen Mei 2026