Ekspor Industri Keramik Indonesia Tembus Rp 517 Miliar di Awal 2025
Kinerja ekspor industri keramik Indonesia menunjukkan tren positif. Berdasarkan catatan Kementerian Perindustrian, nilai ekspor pada periode Januari hingga Agustus 2025 mencapai USD 31 juta atau setara dengan Rp 517,98 miliar.
Pencapaian ini didukung oleh posisi Indonesia sebagai salah satu produsen keramik terbesar di dunia. Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil, Taufiek Bawazier, mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini berada di peringkat lima besar produsen keramik global dengan kapasitas produksi mencapai 625 juta meter persegi per tahun.
“Kami optimistis bahwa dengan dukungan investasi dan kebijakan yang tepat, Indonesia berpotensi naik peringkat menjadi empat besar produsen keramik dunia dalam waktu dekat,” ujar Taufiek.
Pertumbuhan dan Serapan Investasi yang Kuat
Dukungan terhadap sektor ini juga terlihat dari pertumbuhannya. Pada Kuartal II 2025, kelompok industri yang mencakup semen, keramik, dan pengolahan bahan galian nonlogam mencatat pertumbuhan yang signifikan sebesar 10,07 persen secara tahunan. Sektor ini tercatat sebagai salah satu subsektor dengan kinerja terbaik di dalam industri manufaktur nonmigas.
Dari sisi investasi, realisasi di sektor keramik pada kurun 2020-2024 telah mencapai Rp 20,3 triliun, yang menyerap lebih dari 10.000 tenaga kerja. Secara kumulatif, total investasi di industri keramik hingga saat ini telah menembus angka Rp 224 triliun dan menyerap sekitar 40.000 pekerja di berbagai rantai produksinya.
Tantangan Banjir Impor yang Mengancam
Meski memiliki prospek yang cerah, industri keramik domestik menghadapi tantangan serius. Sektor ini termasuk dalam daftar industri yang mengalami tekanan akibat membanjirnya produk impor, bersama dengan industri tekstil, alas kaki, elektronik, baja, dan kosmetik.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, menyatakan kekhawatiran akan dampak negatif dari lonjakan impor produk keramik jadi ke pasar dalam negeri. Kondisi ini berpotensi mengganggu kinerja dan daya saing industri lokal.
Febri menjelaskan bahwa banjir produk impor dengan harga yang lebih murah dapat menekan tingkat utilisasi pabrik dalam negeri. Perusahaan menjadi lebih berhat-hati dalam memutuskan tingkat produksinya karena harus mempertimbangkan kondisi pasar domestik yang telah dipenuhi produk impor.
“Ketika pasar domestik sudah banjir produk impor dengan harga murah, industri di dalam negeri akan berpikir ulang untuk memproduksi dalam jumlah besar,” tuturnya.
Artikel Terkait
Danantara Alokasikan 50% Dana Kelolaan ke Pasar Modal
Pertamina Geothermal Kembangkan Hidrogen Hijau dari Panas Bumi untuk Terminal Tanjung Sekong
Bursa Asia Melemah Ikuti Wall Street, Kecuali Korea Selatan
Harga Emas Antam Turun Rp43.000 per Gram pada Jumat Pagi