MBG Jadi Wajah Prabowo, Tapi Masalah Implementasi Mengintai

- Minggu, 28 Desember 2025 | 09:25 WIB
MBG Jadi Wajah Prabowo, Tapi Masalah Implementasi Mengintai

Menjelang akhir 2025, pemerintahan Prabowo Subianto lagi-lagi jadi bahan pembicaraan. Sorotan itu datang dari berbagai survei yang mencatat detak jantung publik: ada kepuasan, tapi tak sedikit pula kritik yang mengemuka.

Nurul Fatta, pengamat politik dari Politika Research & Consulting (PRC), punya catatan menarik. Dari rangkaian survei nasional dan daerah selama lima bulan terakhir, dia melihat pemerintahan saat ini layak dapat apresiasi, tapi juga perlu banyak evaluasi. Itu kesimpulannya.

Di sisi lain, publik ternyata memberi nilai positif untuk beberapa kebijakan. Yang paling menonjol? Program Makan Bergizi Gratis atau MBG. Program ini dianggap sebagai capaian utama pemerintahan Prabowo sejauh ini.

"Sebagian besar publik menilai MBG sebagai program presiden yang paling bermanfaat dan layak dilanjutkan," kata Nurul Fatta kepada RMOL, Minggu lalu.

Menurutnya, ada pergeseran sikap yang cukup signifikan. Masyarakat yang awalnya menolak atau ragu-ragu, kini justru merasa puas setelah program itu benar-benar dijalankan. Program ini, dalam pandangannya, sudah menjadi semacam "wajah" Presiden Prabowo.

"Mirip seperti bagaimana infrastruktur dan program sembako dulu menjadi identitas pemerintahan Jokowi," ungkapnya.

Namun begitu, Nurul mengingatkan satu hal. Justru karena MBG sudah jadi wajah sang presiden, segala persoalan dalam pelaksanaannya tidak boleh dianggap enteng. Kasus keracunan, masalah pengelolaan dapur umum, sampai soal kualitas makanan semuanya harus jadi perhatian serius. Jangan sampai diabaikan.

"Kritik atau keluhan masyarakat harus dimaknai sebagai peringatan atas lemahnya implementasi kebijakan," tegasnya.

Pungkasnya, "Itu bukan bentuk sikap rakyat yang dianggap tidak bersyukur, seperti yang sempat dituduhkan pejabat BGN beberapa waktu lalu."

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar