Usulan Integrasi Tarif Tol JTCC untuk Atasi Selisih Harga dan Tingkatkan Trafik
PT Cibitung Tanjung Priok Port (CTP) Tollways mengusulkan penerapan integrasi tarif pada ruas Jalan Tol Cibitung–Cilincing (JTCC). Langkah strategis ini diambil untuk mengatasi disparitas atau perbedaan tarif yang signifikan dengan ruas tol di sekitarnya, yang selama ini dinilai menghambat volume lalu lintas.
Disparitas Tarif yang Signifikan
Direktur Utama PT CTP Tollways, Yaya Ruhiya, mengungkapkan bahwa perbedaan tarif antara JTCC dan ruas tol lain, seperti Cikunir, terbilang besar. Untuk kendaraan Golongan I saja, tarif di JTCC lebih mahal sekitar Rp 70.000. Selisih ini bahkan semakin melebar untuk kendaraan golongan IV dan V, yang bisa mencapai Rp 140.000.
"Kondisi inilah yang menyebabkan banyak pengendara, dari berbagai golongan, lebih memilih melalui Cikunir karena pertimbangan tarif yang lebih murah," jelas Yaya Ruhiya.
Volume Lalu Lintas Jauh dari Target
Meski memiliki kapasitas jalan yang besar, realisasi volume kendaraan di Tol JTCC masih jauh dari target business plan. Transaksi harian saat ini hanya berkisar antara 34.000 hingga 36.000 kendaraan. Sementara itu, volume tertimbang, yang menjadi indikator lalu lintas dengan mempertimbangkan jarak tempuh, hanya berada di angka 8.500 hingga 8.700 per hari.
Dampak dan Harapan Integrasi Tarif
Dengan dihilangkannya disparitas tarif melalui skema integrasi, diharapkan pengguna jalan tol memiliki pilihan rute yang lebih fleksibel tanpa terbebani oleh perbedaan harga yang tajam. Hal ini pada akhirnya diyakini dapat mendongkrak volume atau trafik kendaraan di ruas Tol JTCC.
Upaya Lain untuk Tingkatkan Trafik
Selain mengusulkan integrasi tarif, CTP Tollways juga melakukan beberapa upaya lain untuk meningkatkan trafik, antara lain:
- Memberikan program diskon tarif secara berkala.
- Membuka akses masuk baru di daerah Wanajaya dan beberapa titik lainnya.
Dukungan untuk Pengembangan Kawasan Logistik
Perusahaan juga menyambut baik rencana pengembangan logistik hub seluas 400 hektare di sekitar jalan tol. Keberadaan kawasan logistik ini diharapkan dapat menciptakan generated traffic, yaitu lalu lintas yang tercipta secara organik dari aktivitas industri dan logistik di sekitarnya, sehingga pertumbuhan trafik tidak hanya bergantung pada pertumbuhan eksisting.
Artikel Terkait
Wall Street Melemah, Sektor Teknologi Tertekan oleh Kekhawatiran AI dan Data Pasar Tenaga Kerja
OJK Bentuk Satgas Reformasi Integritas Pasar Modal, Naikkan Batas Free Float Jadi 15%
IHSG Turun 0,53% ke 8.103,88, Mayoritas Sektor Terkoreksi
Rupiah Melemah ke Rp16.842 per Dolar Dihantam Sentimen Geopolitik Timur Tengah