TotalEnergies, perusahaan energi terkemuka asal Prancis, memproyeksikan permintaan minyak global akan terus meningkat hingga tahun 2040 sebelum mengalami penurunan bertahap. Dalam laporan prospek energi tahunannya, perusahaan menyoroti bahwa kekhawatiran keamanan energi dan kurangnya koordinasi politik menjadi faktor penghambat utama dalam upaya percepatan reduksi emisi.
Kebijakan Produksi OPEC dan Dampaknya
OPEC (Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya) menyetujui kenaikan produksi minyak dalam volume terbatas untuk bulan Desember, sekaligus mengumumkan penghentian sementara rencana peningkatan produksi pada kuartal I 2026. Kebijakan ini mencerminkan kehati-hatian organisasi dalam menanggapi dinamika pasar energi global.
Survei Reuters yang dirilis Selasa mengungkapkan bahwa produksi minyak OPEC terus menunjukkan peningkatan selama Oktober, meskipun laju peningkatannya melambat secara signifikan dibandingkan dengan periode musim panas.
Efek Sanksi AS terhadap Perusahaan Energi Rusia
Bjarne Schieldrop, Kepala Analis Komoditas di SEB Research, menyoroti bahwa dampak kenaikan harga minyak akibat sanksi AS terhadap perusahaan energi Rusia Lukoil dan Rosneft mulai memudar. "Pada 21 November mendatang, ketika sanksi terhadap perusahaan lain yang terus berdagang dengan entitas Rusia mulai berlaku, kami memperkirakan dampak sanksi tersebut akan menguap, menghilang, atau dihapuskan secara bertahap seiring waktu," paparnya.
Antisipasi Data Inventaris Minyak Mentah AS
Pasar kini memusatkan perhatian pada rilis data inventaris minyak mentah terbaru dari American Petroleum Institute (API). Survei awal Reuters mengindikasikan bahwa stok minyak mentah AS diperkirakan mengalami peningkatan selama pekan lalu, yang berpotensi memberikan tekanan tambahan pada harga minyak global.
Artikel Terkait
Harga CPO Menguat Pekan Ketiga, Didukung Konflik Timur Tengah dan Harga Energi
Saham Energi Boy Thohir Jadi Penopang Pasar di Tengah Pelemahan IHSG
Menkeu Purbaya Bicara Beban Jabatan dan Rencana Bantu Pedagang Terbelit Utang
Bitcoin Koreksi 7% Usai The Fed Pertahankan Suku Bunga dan Revisi Proyeksi Inflasi