Rahasia Teh Kayu Aro: Warisan Kolonial yang Mendunia & Jadi Favorit Ratu

- Senin, 03 November 2025 | 20:36 WIB
Rahasia Teh Kayu Aro: Warisan Kolonial yang Mendunia & Jadi Favorit Ratu

Perkebunan Teh Kayu Aro di Jambi, yang terletak di ketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut, merupakan salah satu perkebunan teh tertinggi di dunia. Suasana perkebunan dihidupkan oleh suara mesin pemetik teh dan aktivitas puluhan pekerja yang memanen pucuk daun teh terbaik selama enam hari dalam seminggu.

Perkebunan teh tertinggi di Indonesia ini dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV Region 4. Perusahaan ini berkomitmen untuk menjaga kualitas teh hitam Kayu Aro dari proses panen hingga pengolahan di pabrik. Menurut Manajer Unit Usaha Kayu Aro, Delvi, cara dan waktu panen serta durasi pengolahan sangat mempengaruhi kualitas akhir produk teh.

Meskipun pabrik teh Kayu Aro telah beroperasi sejak tahun 1925 dan menggunakan mesin, proses penyeleksian mutu, aroma, dan rasa tetap dilakukan secara manual. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan nilai dan kualitas teh yang dihasilkan. "Ini tanaman berharga kami. Setiap tingkatan mutu harus melewati uji rasa dan aroma. Dan itu masih dilakukan secara manual," tegas Delvi.

Petugas pengambilan sampel pabrik teh Kayu Aro, Elsa Lingga Pradesa, menjelaskan bahwa terdapat lima petugas khusus yang bertanggung jawab untuk uji laboratorium. Mereka memastikan mutu teh peninggalan masa Kolonial ini tetap terjaga. Selama proses pengolahan, daun teh mengalami perubahan rasa dan warna karena perbedaan suhu saat fermentasi. Uji laboratorium diperlukan untuk memisahkan rasa masing-masing daun.

Teh Kayu Aro memiliki enam cita rasa utama, yaitu broken orange pecco (BOP), pecco fanning (PF), broken tea (BT), broken pecco (BP), dan dust. Teh ini telah lama dikenal sebagai teh kegemaran Ratu Belanda dan Ratu Inggris, sehingga namanya harum hingga ke Eropa dan Amerika.

Sebanyak 80 persen produksi teh Kayu Aro diekspor ke berbagai negara, seperti Inggris, Amerika Serikat, dan Pakistan. Pada tahun 2025, PTPN IV Region 4 menargetkan produksi sebanyak 25 juta kilogram teh, meningkat dua juta kg dari tahun sebelumnya. Puncak musim panen diperkirakan terjadi pada November-Desember 2025, dimana perkebunan seluas 2.126 hektare ini bisa menghasilkan 100 ton teh basah per hari.

Tahun 2025 juga menjadi tahun spesial karena bertepatan dengan perayaan 1 abad Teh Kayu Aro. Momentum ini dijadikan sebagai pelecut semangat untuk mencapai laba maksimal. "Emas hijau" dari kaki Gunung Kerinci ini akan terus berumur panjang dan menyebarkan wanginya ke berbagai penjuru dunia.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar