Proyek baterai kendaraan listrik terintegrasi antara raksasa baterai asal China, Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL), dan Indonesia Battery Corporation (IBC) tengah mengajukan fasilitas tax holiday. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengonfirmasi bahwa pembahasan insentif fiskal tersebut masih berlangsung.
Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Ahmad Erani Yustika, mengatakan pemerintah masih mendiskusikan pengajuan pembebasan atau pengurangan Pajak Penghasilan (PPh) untuk proyek yang dikenal dengan nama Dragon itu. Pembahasan dilakukan bersama Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan pada Selasa (30/6).
"Masalah tax holiday yang diajukan oleh Proyek Dragon. Yang di Karawang itu, (rapat) mengenai itu. Mengenai interpretasi atas keputusan Menteri Keuangan terkait dengan tax holiday kan ada beberapa perubahan," jelas Erani saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jumat (3/7).
Erani menambahkan, proses harmonisasi juga melibatkan Kementerian Investasi/BKPM. Sebab, perlu ada keselarasan sudut pandang antara Kementerian ESDM dan Kementerian Keuangan. "Ini menyangkut penggunaan tahun, itu perlu ada kesepahaman lah antara DJP, dengan BKPM, dengan ESDM, untuk memastikan apakah proyek Dragon tadi itu, CATL, beberapa joint venture-nya itu bisa memperoleh fasilitas tersebut," tuturnya.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung telah menggelar rapat koordinasi dengan Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto dan Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis untuk membahas pengaturan insentif perpajakan bagi proyek hilirisasi di sektor energi. "Langkah ini menjadi bagian dari upaya menciptakan iklim investasi yang lebih kompetitif, mempercepat pengembangan industri hilir, serta mendukung peningkatan nilai tambah sumber daya alam dan ketahanan energi nasional," kata Yuliot dalam unggahan Instagram resmi @tanjungyuliot, dikutip Jumat (3/7).
Pabrik di Karawang Siap Beroperasi
Proyek ini dijalankan oleh perusahaan patungan bernama Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB), yang akan membangun pabrik baterai EV di Karawang, Jawa Barat. Pabrik tersebut direncanakan mulai beroperasi pada Juli 2026. Presiden Direktur IBC, Aditya Farhan Arif, menyebut persiapan telah mencapai 90 persen. "Insyaallah Juli ini COD (Commercial Operation Date). Kemungkinan akhir bulan," katanya dalam bincang Mind Club di Jakarta, Senin (18/5).
Pada tahap pertama, pabrik akan memiliki kapasitas produksi baterai sebesar 6,9 gigawatt hour (GWh), terdiri dari baterai nickel manganese cobalt (NMC) dan lithium iron phosphate (LFP). Tahap kedua akan menambah kapasitas 8,1 GWh, yang juga menjadi fase ekspor dimulai meski bersifat opsional karena masih perlu mencari pembeli. Total investasi proyek ini mencapai USD 1,1 miliar.
IBC membidik pasar ekspor untuk baterai NMC ke Eropa, terutama Jerman, karena permintaan baterai berbasis nikel dinilai lebih tinggi di kawasan tersebut. Sementara itu, baterai LFP tidak hanya untuk kendaraan listrik, tetapi juga digunakan untuk battery energy storage system (BESS), termasuk penyimpanan energi di pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB). IBC telah mengantongi calon pembeli untuk baterai LFP, dengan salah satu pasar ekspor yang disasar adalah Jepang.
Artikel Terkait
Maling Babak Belur Diamuk Massa di Karawang, Polisi Amankan Pelaku
Dedi Mulyadi Turun Tangan Tangani Siswi Korban Pelecehan yang Dikeluarkan Sekolah di Karawang
Titiek Soeharto: Diskon Pupuk 20 Persen dan Pemangkasan 145 Aturan Dorong Gairah Petani
Botol Miras Bergelantungan di Tiang Listrik, Warga Karawang Protes Satpol PP