Dow Jones Cetak Rekor Penutupan Tertinggi Usai Data Tenaga Kerja AS Melemah

- Jumat, 03 Juli 2026 | 06:30 WIB
Dow Jones Cetak Rekor Penutupan Tertinggi Usai Data Tenaga Kerja AS Melemah

Bursa saham Amerika Serikat ditutup beragam pada perdagangan Kamis (2/7) menjelang libur panjang Hari Kemerdekaan. Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak lebih dari 1 persen dan mencatat rekor penutupan tertinggi baru, setelah data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan meredam ekspektasi kenaikan suku bunga.

Dow Jones membukukan kenaikan selama empat pekan berturut-turut, menjadi reli mingguan terpanjang sejak Oktober 2024. Pasar saham AS libur pada Jumat (3/7) untuk memperingati Hari Kemerdekaan.

Pada penutupan perdagangan, Dow Jones naik 594,83 poin atau 1,14 persen menjadi 52.900,07. Indeks S&P 500 nyaris stagnan, naik tipis 0,01 poin menjadi 7.483,24, sementara Nasdaq Composite justru turun 207,36 poin atau 0,80 persen menjadi 25.832,67.

Secara mingguan, Dow Jones menguat sekitar 2 persen, S&P 500 naik 1,8 persen, dan Nasdaq bertambah 2,1 persen.

Data nonfarm payrolls menunjukkan ekonomi AS hanya menambah 57.000 lapangan kerja pada bulan lalu, jauh di bawah perkiraan ekonom yang memperkirakan penambahan 110.000 lapangan kerja. Tingkat pengangguran tercatat 4,2 persen, sejalan dengan ekspektasi pasar sebesar 4,3 persen. Laporan ini muncul setelah sebelumnya pasar tenaga kerja menunjukkan pertumbuhan yang kuat.

Berdasarkan CME FedWatch, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed menurun setelah data tersebut dirilis. Peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September turun menjadi 55 persen dari sebelumnya 64,1 persen.

"Data ketenagakerjaan ini bukan berarti kekhawatiran terhadap inflasi sudah berakhir," kata Chief Executive Officer 50 Park Investments di New York, Adam Sarhan. "Namun, data ini mengurangi tekanan terhadap The Fed untuk menaikkan suku bunga dalam jangka pendek," lanjutnya.

Investor juga mengkhawatirkan inflasi, terutama setelah harga minyak melonjak tajam pada awal perang Iran.

Saham Apple naik 4,8 persen dan menjadi salah satu penopang utama ketiga indeks saham utama setelah Nikkei Asia melaporkan perusahaan tersebut berencana meluncurkan lima model iPhone baru.

Di sisi lain, indeks semikonduktor (SOX) ditutup turun 5,4 persen, memperpanjang pelemahan tajam selama dua hari berturut-turut. Saham Nvidia melemah 1,4 persen, sedangkan SanDisk anjlok 14,1 persen.

Managing Director Granite Wealth Management, Bruce Zaro, mengatakan investor kemungkinan mulai merealisasikan keuntungan pada saham-saham chip setelah reli kuat sepanjang tahun ini. Meski demikian, indeks semikonduktor masih mencatat kenaikan sekitar 78 persen sejak awal tahun.

Di Bursa New York (NYSE), jumlah saham yang naik lebih banyak dibandingkan yang turun dengan rasio 1,42 banding 1. Sebanyak 318 saham mencetak level tertinggi baru dan 111 saham menyentuh level terendah baru. Di Nasdaq, ada 2.419 saham yang menguat dan 2.548 saham yang melemah, sehingga saham yang turun sedikit lebih banyak dengan rasio 1,05 banding 1. Baik indeks S&P 500 maupun Nasdaq Composite tidak mencatat saham yang menyentuh level tertinggi maupun terendah baru dalam periode 52 minggu.

Volume perdagangan di bursa AS mencapai 19,92 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata 20 hari perdagangan terakhir yang sebesar 23,34 miliar saham.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags