PT Kimia Farma Tbk (KAEF) terus mengakselerasi transformasi bisnis di tengah upaya menyelesaikan berbagai tantangan historis, termasuk putusan arbitrase internasional yang mengharuskan perseroan membayar ganti rugi. Langkah ini diambil untuk memastikan fundamental bisnis yang lebih kuat ke depan tanpa mengganggu operasional layanan kesehatan.
Perseroan kalah dalam sengketa dengan Indonesia Investment Authority (INA) dan Silk Road Fund (SRF) di Singapore International Arbitration Centre (SIAC). Manajemen KAEF mengaku telah menerima salinan putusan dan tengah berkoordinasi dengan pemangku kepentingan untuk menentukan langkah terbaik.
"Kami memastikan akan mengelola dan menyelesaikan tantangan historis masa lalu hingga tuntas, dengan tetap memastikan tidak terganggunya transformasi bisnis dan pelayanan kesehatan untuk masyarakat," ujar Direktur Utama KAEF, Djagad Prakasa Dwialam, dalam keterangan resmi, Senin (29/6/2026).
Djagad menegaskan komitmen penyelesaian tantangan tersebut merupakan bagian dari penerapan tata kelola perusahaan yang baik (GCG). Ia juga memastikan seluruh kegiatan operasional manufaktur, distribusi, apotek, dan layanan kesehatan di seluruh jaringan tetap berjalan optimal.
Langkah penguatan ini menjadi strategi perseroan memanfaatkan tren positif setelah berhasil membalikkan posisi neraca keuangan. Pada triwulan I-2026, KAEF mencatat laba bersih Rp123,63 miliar, berbalik dari rugi sepanjang 2025.
"Capaian positif ini membuktikan bahwa restrukturisasi keuangan yang sudah kami jalankan sejak dua tahun lalu, berikut transformasi model bisnis yang lebih ramping dan efisien, telah berjalan di jalur yang tepat," ujar Djagad.
Transformasi Hulu dan Hilir
Untuk melanjutkan tren positif, KAEF fokus pada transformasi bisnis dari hulu ke hilir. Di level hulu, perseroan memangkas ketergantungan terhadap bahan baku impor dengan mengoptimalkan Bahan Baku Obat (BBO) lokal. Langkah ini sekaligus menjadi kontribusi sebagai BUMN dalam memperkuat kemandirian ekosistem farmasi nasional.
Saat ini KAEF telah memproduksi BBO lokal untuk berbagai kategori terapi prioritas, termasuk kardiovaskular, antibiotik, dan antiretroviral untuk penanganan HIV. Melalui anak usaha PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP), perseroan memiliki 19 BBO bersertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari BPOM. Dari jumlah tersebut, 18 BBO telah bersertifikat halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Optimalisasi BBO lokal diharapkan bisa menekan ketergantungan impor bahan baku yang saat ini masih mencapai 95 persen.
"Melalui penguatan sektor hulu ini, kami juga sekaligus telah mencatatkan sejarah sebagai industri farmasi pertama di Indonesia yang fokus dalam mengoptimalkan penggunaan bahan baku lokal," ujar Djagad.
Di sektor hilir, KAEF menangkap peluang strategis dari pergeseran demografi nasional dengan membangun ekosistem layanan Senior Care atau Healthy Ageing terintegrasi. Dengan proporsi 20 persen dari total penduduk pada 2045 mendatang, segmen lansia diyakini bakal menjadi pendorong nilai ekonomi terbesar dalam industri kesehatan nasional.
Untuk membidik pasar lansia, KAEF mengoptimalkan jaringan retail apotek dan klinik Kimia Farma dengan ekosistem terpadu yang menyediakan obat-obatan untuk penyakit kronis (diabetes, hipertensi), suplemen preventif khusus, hingga layanan pemantauan kesehatan berkala yang ramah lansia. Segmen ini diproyeksikan menjadi revenue generator baru yang stabil dan loyal.
Perseroan sengaja menggeser fokus dari layanan kuratif konvensional menuju Preventive & Personalized Care melalui portofolio Healthspan. Strategi ini didukung oleh rentang produk komprehensif, mulai dari obat-obatan kimia, produk nutraceutical, hingga produk herbal berkualitas tinggi yang dirancang untuk membantu lansia menjaga kemandiriannya lebih lama.
"Peran vital dalam ekosistem ini kami jalankan melalui PT Kimia Farma Diagnostika (KFD) yang menjadi garda terdepan dalam layanan diagnostik, early screening, serta Medical Check-Up (MCU) khusus lansia untuk deteksi dini risiko penyakit kronis," ujar Djagad.
Sebagai solusi bagi pasien lansia dengan keterbatasan mobilitas, KAEF memiliki layanan Homecare yang menyediakan Home Lab, Home Pharmacy, dan Home Nurse secara langsung di kediaman pasien. Integrasi layanan ini memastikan pengelolaan penyakit kronis dan kesejahteraan lansia dapat terjaga secara inklusif tanpa harus meninggalkan rumah.
Artikel Terkait
AKR Corporindo Umumkan Susunan Direksi Baru, Efektif 30 Juni 2026
Insentif Impor Otomotif Capai USD 800 Miliar, Pemerintah Dinilai Konsisten Dukung Industri
Pemerintah Pangkas Harga Gas Industri Jadi USD 13 per MMBTU
IHSG Anjlok 0,97 Persen ke 5.838, Rupiah Menguat ke Rp 17.859 per Dolar AS