Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa China telah menyetujui pembelian 200 unit pesawat jet Boeing. Namun, angka tersebut jauh di bawah perkiraan analis, yang langsung berdampak pada penurunan harga saham perusahaan manufaktur dirgantara itu.
Trump menyampaikan kabar ini dalam acara Hannity di Fox News. Ia mengklaim kesepakatan itu merupakan hasil pertemuan dengan pemimpin China, Xi Jinping. “Satu hal yang dia setujui hari ini, dia akan memesan 200 pesawat, 200 yang besar,” ujar Trump, seperti dikutip dari kantor berita Reuters.
Meski demikian, detail kesepakatan, termasuk jadwal pengiriman dan jenis pesawat, belum diungkapkan. Jumlah tersebut juga jauh lebih kecil dibandingkan paket sekitar 500 pesawat yang sebelumnya sempat dibahas menjelang pertemuan kedua pemimpin. Akibatnya, saham Boeing tercatat turun 4,1 persen pada Kamis dan 3,7 persen pada Jumat waktu setempat.
Pesanan besar Boeing ini sejatinya merupakan salah satu dari sejumlah kesepakatan bisnis yang diharapkan muncul dari pertemuan Trump dan Xi. Para investor juga menantikan perpanjangan gencatan dagang yang telah berlangsung sejak Oktober tahun lalu. Saat itu, Trump menangguhkan tarif tiga digit pada barang-barang China, sementara Xi menghindari pembatasan pasokan global logam tanah jarang yang penting.
Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi terkait reaksi pasar terhadap pengumuman tersebut. Sementara itu, sumber yang mengetahui isi diskusi kedua pemimpin menyebutkan bahwa pembicaraan awal sebenarnya mencakup 500 unit Boeing 737 MAX, ditambah kemungkinan puluhan pesawat widebody yang lebih mahal dalam pesanan lanjutan setelah pertemuan. Namun, China juga diketahui tengah berdiskusi untuk kesepakatan serupa dengan produsen pesawat Eropa, Airbus.
Persaingan antara Boeing dan Airbus di China, yang merupakan pasar penerbangan terbesar kedua di dunia, sangat ketat. Pada dekade 2010-an, Airbus berhasil melampaui Boeing dan menguasai mayoritas pasar, bahkan membuka pabrik perakitan akhir A320 di Tianjin. China dinilai perlu membeli dari kedua produsen tersebut untuk memenuhi pertumbuhan permintaan perjalanan yang pesat. Menurut banyak analis, China saat ini membutuhkan hingga 1.000 pesawat baru. Proyeksi pasar dari Boeing dan Airbus bahkan menunjukkan bahwa China akan membutuhkan setidaknya 9.000 pesawat jet baru hingga tahun 2045.
Pesanan besar terakhir China dengan Boeing terjadi saat kunjungan Trump ke Beijing pada November 2017, ketika disepakati pembelian 300 pesawat. Setelah itu, hubungan kedua negara memburuk, dan Boeing hanya menerima 51 pesanan, yang sebagian besar merupakan pesawat kargo.
Para analis menilai bahwa Beijing memiliki sejarah menggunakan pertemuan diplomatik untuk mengumumkan pesanan pesawat besar yang lebih mencerminkan kondisi politik, bukan realitas kontrak. “Pembelian pesawat oleh maskapai China memerlukan persetujuan pemerintah pusat dan sering terkait kunjungan diplomatik. Operator akhir pesawat biasanya baru jelas mendekati waktu pengiriman,” ujar Matt Akers, analis investasi dirgantara di BNP Paribas.
CEO Boeing, Kelly Ortberg, dan CEO GE Aerospace, Larry Culp, termasuk dalam jajaran eksekutif AS yang ikut mendampingi Trump ke China. Mereka berharap dapat mengamankan kesepakatan atau menyelesaikan sengketa. Trump sendiri secara agresif mendorong negara lain dalam negosiasi dagang untuk meningkatkan pembelian pesawat Boeing. Bulan lalu, Ortberg menyatakan kepada Reuters bahwa ia mengandalkan dukungan pemerintahan Trump untuk menutup kesepakatan besar dengan China.
Artikel Terkait
IHSG Diprediksi Masih Rawan Koreksi Pekan Depan, Tertekan Geopolitik dan Rebalancing MSCI
IHSG Terkoreksi 1,98% Usai MSCI Rebalancing, Analis Sebut Tekanan Eksternal Makin Dominan
Harga Minyak Stagnan di Tengah Laporan 30 Kapal Berhasil Melintasi Selat Hormuz
Wall Street Cetak Rekor Baru, Reli Saham Teknologi Dipicu Pertemuan Trump-Xi dan Izin Penjualan Chip Nvidia