UEA Resmi Keluar dari OPEC, Fokus pada Kepentingan Nasional

- Rabu, 29 April 2026 | 07:20 WIB
UEA Resmi Keluar dari OPEC, Fokus pada Kepentingan Nasional

IDXChannel – Uni Emirat Arab resmi mengumumkan diri keluar dari OPEC dan OPEC . Alasannya? Mereka mau fokus ke kepentingan nasional. Keputusan ini jelas jadi pukulan telak buat kelompok negara pengekspor minyak, apalagi di tengah perang AS-Iran yang bikin harga energi kacau dan ekonomi global goyah. Menurut laporan Al Jazeera, Rabu (29/4/2026), langkah ini bakal berlaku mulai Jumat depan, 1 Mei 2026. Pemerintah UEA bilang, keputusan ini mencerminkan visi strategis jangka panjang mereka profil energi yang terus berubah, katanya. “Selama jadi anggota, kami sudah banyak berkontribusi, bahkan berkorban demi kepentingan bersama. Tapi sekarang, saatnya kami fokus pada apa yang jadi prioritas nasional,” begitu bunyi pernyataan resmi dari pemerintah UEA. UEA sendiri bukan anggota sembarangan. Mereka sudah lama bergabung. Keluarnya mereka berpotensi bikin kartel minyak ini makin lemah dan kacau. Selama ini OPEC berusaha keras menunjukkan kekompakan, meski di dalamnya ada banyak perbedaan pendapat dari soal geopolitik sampai kuota produksi. Menteri Energi UEA, Suhail Mohamed al-Mazrouei, bilang keputusan ini diambil setelah pertimbangan matang soal strategi energi negara. Waktu ditanya, apakah mereka konsultasi dulu dengan Arab Saudi pemain utama OPEC dia jawab tegas: tidak. “Ini keputusan kebijakan. Kami sudah kaji ulang kebijakan saat ini dan ke depan soal tingkat produksi,” ujarnya ke Reuters. Di sisi lain, para produsen Teluk di OPEC memang lagi susah payah menyalurkan ekspor lewat Selat Hormuz. Jalur sempit antara Iran dan Oman itu biasanya dilewati sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia. Tapi sekarang, ancaman dan serangan terhadap kapal selama perang bikin segalanya makin rumit. Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya juga sempat menuduh OPEC “memeras dunia” dengan menaikkan harga minyak. Dia bahkan mengaitkan dukungan militer AS untuk negara-negara Teluk dengan harga minyak. Katanya, AS melindungi anggota OPEC, tapi mereka malah memanfaatkannya dengan pasang harga tinggi. UEA pertama kali gabung OPEC lewat emirat Abu Dhabi pada 1967. Baru setelah negara itu terbentuk tahun 1971, mereka resmi jadi anggota penuh. Kartel yang berbasis di Wina ini sebenarnya sudah mulai kehilangan pengaruh pasar dalam beberapa tahun terakhir. Apalagi produksi minyak mentah AS terus meningkat. Menariknya, UEA dan Arab Saudi belakangan makin sering bersaing baik soal ekonomi maupun politik regional, khususnya di kawasan Laut Merah. Dulu mereka satu koalisi lawan pemberontak Houthi yang didukung Iran di Yaman sejak 2015. Tapi koalisi itu retak akhir Desember lalu, waktu Arab Saudi menyerang target yang mereka klaim sebagai pengiriman senjata untuk kelompok separatis Yaman yang didukung UEA. Perusahaan riset energi Rystad Energy bilang, keluarnya UEA ini perubahan besar buat kelompok produsen minyak. “Kehilangan anggota dengan kapasitas 4,8 juta barel per hari plus ambisi mereka buat naikin produksi berarti menghilangkan salah satu alat penting dari tangan kelompok ini,” ujar Jorge Leon, kepala analisis geopolitik Rystad Energy. Arab Saudi sekarang harus pikul beban lebih berat buat jaga stabilitas harga. Dan pasar? Mereka kehilangan salah satu penyangga guncangan yang tersisa. (NIA DEVIYANA)

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar