IDXChannel – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) akhirnya benar-benar memanfaatkan opsi greenshoe senilai USD250 juta. Ini bukan sekadar wacana. Opsi tersebut diambil dari fasilitas kredit bergulir yang sebelumnya sudah mereka dapatkan dari beberapa bank global.
Buat yang belum familiar, greenshoe itu semacam mekanisme tambahan. Jadi, peminjam bisa menaikkan total nilai pinjaman dari sindikasi bank, melebihi nominal awal yang disepakati. Semacam jatah lebih gitu, deh.
Nah, dalam keterbukaan informasi yang dirilis Jumat (24/4/2026), disebutkan kalau tambahan fasilitas ini datang dari sindikasi bank. Anggotanya? Ada DBS Bank Ltd, Mizuho Bank Ltd, PT Bank Mizuho Indonesia, dan UOB Ltd. Lumayan panjang daftarnya.
Dengan dieksekusinya opsi ini, total nilai fasilitas kredit yang dimiliki INCO dari sindikasi bank tersebut langsung membengkak jadi USD750 juta. Angka yang cukup besar, bukan?
Lalu, dana sebanyak itu mau dipakai buat apa? Menurut perseroan, uangnya akan digunakan untuk kebutuhan umum korporasi. Termasuk di dalamnya belanja modal atau capex, istilah kerennya dan juga modal kerja. Jadi, bukan untuk hal-hal yang aneh-aneh.
Soal bunganya, perseroan menjelaskan bahwa seluruh fasilitas ini dikenakan bunga berdasarkan term SOFR. Ditambah lagi dengan margin tertentu yang berlaku. Hitung-hitungannya memang standar perbankan global.
Jangka waktu fasilitasnya sendiri adalah 24 bulan. Hitung mundurnya mulai 25 Maret 2026. Tapi, ada opsi perpanjangan. Bisa ditambah 6 sampai 12 bulan ke depan. Lumayan fleksibel, sih.
Dari sisi materialitas, transaksi ini tergolong signifikan. Pasalnya, nilainya setara dengan sekitar 27 persen dari total ekuitas perseroan. Jadi, bukan angka yang bisa dianggap remeh.
Sebagai gambaran, INCO membukukan laba bersih USD76,1 juta sepanjang 2025. Kalau dirupiahkan, dengan kurs Rp17.000 per USD, nilainya sekitar Rp1,29 triliun. Cukup bikin mata melek.
Capaian itu sebenarnya meningkat 32 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yang hanya USD57,77 juta. Pendapatan mereka juga tumbuh 4,21 persen, dari USD950 juta menjadi USD990 juta. Kenaikan ini didorong oleh pemulihan harga nikel yang moderat. Lumayan, meski tidak spektakuler.
Pengiriman nikel matte? Tercatat 73.093 ton. Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 72.625 ton. Kenaikan ini membantu perseroan mempertahankan EBITDA di angka USD228,2 juta sepanjang 2025. Stabil, tapi tetap perlu dijaga.
(DESI ANGRIANI)
Artikel Terkait
ALII Raih Kredit Investasi Rp494,5 Miliar dari BRI untuk Ekspansi Armada
PT Timah Genjot Produksi dan Hilirisasi pada 2026 Manfaatkan Momentum Harga Global
IHSG Anjlok 6,6% dalam Sepekan, Asing Tarik Dana Hingga Rp2 Triliun dalam Sehari
IHSG Anjlok 6,61% dalam Sepekan, Analis Sebut Masih Rawan Koreksi