Indeks utama Wall Street membuka perdagangan dengan hasil yang campur aduk pada Jumat (24/4/2026). Ada secercah harapan baru soal negosiasi antara AS dan Iran yang katanya bisa mengakhiri perang. Sentimen ini, entah kenapa, langsung mendorong pasar. Ditambah lagi, saham Intel melesat dan memberi dorongan tambahan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, rencananya tiba di Islamabad malam ini. Katanya, dia cuma bawa tim kecil. Menurut sumber dari Pakistan, pembicaraan damai dengan AS kemungkinan bakal dilanjutkan lagi. Ya, setidaknya ada angin segar.
Nah, kalau kita lihat angka-angkanya: Dow Jones Industrial Average malah turun 172,94 poin, atau 0,35 persen, ke level 49.137,38. Tapi S&P 500 justru naik 14,58 poin, atau 0,21 persen, ke 7.122,98. Sementara Nasdaq Composite melonjak 153,90 poin, atau 0,63 persen, ke 24.592,41. Agak aneh memang, tapi begitulah pasar.
Kondisi ini sedikit melegakan, terutama setelah seminggu penuh kebuntuan. AS masih ngotot mempertahankan blokade laut di pelabuhan Iran. Di sisi lain, Iran juga tak tinggal diam mereka menyita kapal-kapal yang coba melintas di Selat Hormuz. Tegang, pokoknya.
“Kita sudah melewati puncak ketidakpastian,” kata Mark Malek, chief investment officer di Siebert Financial. “Trader yang paling berani masuk lebih dulu. Sekarang, yang terdorong FOMO ikut-ikutan masuk.” Ya, begitu lah ceritanya.
Kinerja keuangan dari beberapa perusahaan juga lumayan kuat. Tapi, ya, laporan itu baru mencerminkan satu bulan dampak perang. Jadi, banyak investor yang mulai bertanya-tanya: seberapa bisa diandalkan sih hasil ini untuk nebak masa depan? Wajar sih, namanya juga baru sebulan.
Harga minyak masih jadi sumber ketidakpastian terbesar. Kontrak berjangka Brent, misalnya, masih sekitar 44 persen di atas level sebelum perang. Semua gara-gara gangguan di jalur pengiriman penting, Selat Hormuz. Bikin pusing.
Meski begitu, sebagian pihak melihat penurunan ini sebagai peluang beli. Alasannya? Valuasi sekarang dianggap lebih menarik. Ya, istilahnya, “mumpung murah.”
S&P 500 dan Nasdaq Composite bahkan sudah mencetak rekor tertinggi dalam beberapa hari terakhir. Ini didorong keyakinan bahwa fundamental ekonomi tetap kuat meskipun ada perang. Entah bagaimana caranya, tapi itulah yang terjadi.
“Saham AS dipandang sebagai pihak yang diuntungkan,” ujar Manish Kabra, strategist ekuitas AS di Societe Generale. “Relatif lebih tahan terhadap guncangan harga minyak dibanding negara lain. Besarnya pergerakan harga minyak kini juga jauh lebih kecil, jadi investor saham agak tenang.”
Ngomong-ngomong soal saham Intel, mereka melonjak 24,5 persen ke rekor tertinggi. Soalnya, mereka memproyeksikan pendapatan kuartal kedua di atas perkiraan. Pesaingnya, AMD, juga ikut naik 12,5 persen. Indeks semikonduktor Philadelphia naik 3,5 persen, dan ini hari ke-18 berturut-turut mereka naik. Gila sih.
Indeks teknologi informasi naik 1,2 persen, jadi pendorong terbesar indeks acuan. Tapi, kenaikan ini sedikit dibatasi oleh sektor kesehatan yang turun 1,4 persen. Ya, namanya juga pasar, ada yang naik ada yang turun.
(NIA DEVIYANA)
Artikel Terkait
Wall Street Berakhir Mixed di Tengah Harapan Negosiasi AS-Iran, Saham Intel Melonjak 24,5 Persen
Wall Street Mixed di Tengah Harapan Baru Negosiasi AS-Iran dan Lonjakan Saham Intel
Wall Street Bergerak Mixed di Tengah Harapan Baru Negosiasi AS-Iran, Intel Melonjak 24,5 Persen
Riset Henan Asset: Potensi Arus Beli Paksa Enam Saham Indonesia pada Awal Juni 2026