Analis Proyeksikan Guncangan Pasar Global, Rupiah Tertekan hingga Level 17.000

- Minggu, 12 April 2026 | 14:40 WIB
Analis Proyeksikan Guncangan Pasar Global, Rupiah Tertekan hingga Level 17.000

Tapi kalau negosiasi gagal? Skenarionya suram. Potensi perang terbuka di Terusan Suez dan penutupan Selat Hormuz oleh Iran bukan lagi omong kosong. Dampaknya langsung: harga minyak mentah dan emas bisa melonjak bersama-sama.

"Kalau perangnya masih menggunakan misil, kemudian Iran masih menutup Selat Hormuz, ini akan membuat transportasi minyak tersendat sehingga harga minyak naik, dolar menguat, dan berdampak terhadap inflasi," kata Ibrahim.

Ketegangan tak cuma datang dari sana. Intelijen AS baru-baru ini mendeteksi pengiriman persenjataan dari China ke Iran. Trump langsung mengecam, memicu semacam 'perang urat saraf' antara dua raksasa ekonomi dunia. Kondisi seperti ini, menurut Assuaibi, cuma akan mendongkrak harga logam mulia lebih tinggi lagi.

Di internal AS sendiri, ada perkembangan menarik. Penunjukan Christopher Waller atau 'Captain Walls' sebagai Gubernur The Fed yang baru di era Trump memberi sinyal tersendiri bagi pasar.

"Keputusan Trump untuk memilih Kapten Walls berarti sudah ada kerja sama dengan Trump untuk menurunkan suku bunga. Sehingga ini berdampak positif terhadap kenaikan harga emas dunia dan logam mulia,"

ungkap Ibrahim.

Ada fenomena lain yang juga ia soroti. Bank-bank sentral di berbagai negara mulai ramai-ramai memburu logam mulia sebagai cadangan devisa alternatif. Pemicunya? Persepsi bahwa 'Perang Dunia Ketiga' secara faktual sudah berjalan, dengan negara-negara besar terlibat langsung. Kondisi ini memicu masalah ekonomi global yang serius, salah satu tandanya adalah kenaikan harga BBM yang sudah dirasakan dari Amerika sampai Asia. Suasana memang sedang tidak menentu.

Editor: Erwin Pratama


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar